Yeay, akhirnya pengen nulis lagi setelah sekian lama vakum. Jadi, kali ini aku mau bercerita tentang nenekku. Buat dijadikan pelajaran dan pengalaman. Ini tentang hubungan nenek dengan rumah sakit.
Nenek itu mau dibilang punya penyakit serius enggak, tapi hampir tiap tahun, selalu masuk rumah sakit. Sakitnya semacam magh, vertigo, tekanan darah naik, susah tidur, susah makan yang memaksa harus diinfus.
Saat itu aku masih SMP, nenek masuk RS Badarudin yang lama. Sebelum RS itu dipindah ke Maburai. Diusiaku yang terbilang masih muda dan masih anak sekolahan terpaksa menjaga nenek di rumah sakit. Karena nenek gak suka sama mama dan bapakku yang jelas-jelas anak kandungnya sendiri. Dan mama bapakku juga gak pengen mendekati beliau. Nenek lebih dekat sama aku, selalu nyariin aku. Padahal aku sendiri gak terlalu sayang banget dengan beliau. Ya, biasa-biasa aja, gak benci juga.
Meskipun mama gak akrab dengan beliau. Mama tetap yang terbaik, beliau juga tetap membantu nenek saat sakit dan mau merelakan pekerjaan rumah tangganya. Jadi aku atur waktu dengan mama. Disaat aku sekolah, mama yang jaga. Sepulang sekolah, giliran aku yang jaga sampai malam. Adil bukan?
Pengalaman jaga nenek di RS itu berasa kayak roller coaster yang dominan diliputi rasa takut, tegang dan pusing. Takut yang kumaksud bukan ketemu setan dan sebagainya. Awalnya, aku takut harus pulang subuh jam lima. Karena masih gelap dan dingin juga. Pernah saat itu hujan lebat. Aku tetap pulang dengan jas hujan, melawan dingin, penuh kehati-hatian.
Bagaimana dengan PR-ku saat itu? Ya kubawa ke RS lah. Aku belajar disana, buku pelajaran kuangkut. Karena saat itu aku gak terlalu sering megang HP, sosial media gak seheboh sekarang. Masih tahun 2014.
Sesekali aku harus mendengar maki-makian dan amarah dari nenek. Sampai menetes air mataku. Mulutnya pedas. Sering kali orang bertanya, kok anak kecil gitu yang jaga bukan orang dewasa. Anaknya mana? Nenek ngatain bapakku anak durhaka. Miris memang. Semoga keluarga ini bisa akur.
Selain kata-kata pedas. Kadang lelah juga menghadapi cerewetnya orang sakit. Yang suka minta ini itu tanpa mengerti keadaan. Beruntung banget sama orang yang sakit tapi mulutnya gak aneh-aneh. Gak cerewet, gak berisik, gak maki-maki, gak marah-marah.
Selanjutnya ada juga nih pas jaman aku SMA (kalau gak salah ya, agak lupa). Ini di rumah sakit Pertamina. Nenek kami bawa ke UGD. Sambil menunggu, aku sempat ngobrol sama om-om berseragam pertamina. Tapi aku udah lupa apa topik yang diomongin wkwk. Nah aku suka banget sama pelayanan disini. Kalau ada kenapa napa, kita bisa pakai telepon. Gak perlu ke ruang perawat. Di RS ini menurutku pemandangannya bagus. Ada hamparan rumput hijau. Aku sempat berfoto di siang hati dan gak sengaja tertangkap pantulan seperti kunti terbang. Gong banget ini haha.
Pernah juga nenek dibawa ke RS badarudin terbaru. Saat itu aku sedang menikmati masa kuliah sekaligus kerja (kasir toko). Terpaksa aku ijin meninggalkan pekerjaan untuk mengurus nenek. Hasil menunjukan keadaan nenek normal-normal aja, akhirnya diinfus sekali dan dipulangkan. Sebelum ke UGD, nenek sempat hampir mau pingsan terus pelan-pelan ku bawa ke RS dan di bantu satpam perempuan menggunakan kursi roda. Tapi aku heran, gak kena penyakit parah kok bisa kek orang mau mati. Ini gak lagi ekting kan?
Di tahun 2025 ini, nenek sakit lagi. Tampaknya lebih parah. Vertigonya akut, jadi kepalanya sakit banget sampai beliau merasa tak berdaya lagi. Nenek sudah ada perawatan di RS provinsi sebelah yang lebih dekat dari rumah. Tanpa BPJS pula, biarin ! Uang beliau cukup-cukup aja untuk berobat.
Dan aku lagi-lagi jadi kandidat yang terpilih untuk jagain nenek. Selama sehari semalam aja, aku menjaga beliau. Sore itu, aku sendiri yang meminta ambulance desa untuk mengantar kami. Pengalaman unik disini tuh, aku sempat diliatin anjing saat makan, untung saja makananku sudah habis dan pelan-pelan bisa mengusir hewan itu. Sempat gerogi, takut digonggong si doggy.
