Kami berangkat pada hari Sabtu tanggal 13 November 2021. Aku memilih hari Minggu, karena aku ada acara tasmiyah sepupuku di Amuntai. Jadi aku memilih untuk tidak menginap. Aku berangkat pukul setengah tujuh pagi, bersama teman-teman baruku, mereka bukan anak Century, tetapi komunitas relawan kampus. Sebab yang melakukan ekspedisi kali ini terdiri 4 UKM yaitu Century, Mapala, Korma, dan Pramuka.
Entah apa yang mereka lakukan pada hari Sabtu. Aku telah tiba sekitar pukul 9. Aku melihat suasana wisata. Jika saat itu aku pernah kesini pada tahun 2019 dengan jalan akses tanah dan belum diolah masyarakatnya menjadi wisata. Kali ini aku takjub, mereka membuat tempat ini menjadi menarik.
Sungai yang dulu jernih, mungkin sekarang agak keruh. Tetapi masih dangkal. Sekarang meja dan bangku di taruh di tepi sungai sebagai tempat duduk pengunjung yang dibawahnya dialiri air yang membasahi kaki mereka. Disini terdapat warung-warung yang bisa dijadikan penunda lapar para pengunjung. Aku dan Mita memilih menyeduh mie instan dan ditambah beberapa pentol agar kenyang. Kami menyantap sambil melihat aliran sungai yang mengalir dan mobil jet yang adu nyali sambil mandi. Beberapa anak kecil ada yang membuat istana pasir meskipun terlihat seperti batu nisan.
Setelah itu aku dan Mita ke sungai, merendam kaki. Karena lupa membawa sandal, aku melepas sepatu dan kaos kaki. Rasanya segar sekali di kakiku. Kemudian sahabat akrab di kelasku si Milka datang, kebetulan ia penduduk asli disini. Aku diajak dia berfoto, katanya buat kenangan. Biarlah Milka yang jadi fotograferku hari ini. Lalu kami membeli secangkir Dum tea rasa taro dan greentea, serta membelikan Nugi varian rasa coklat.
Kami memandangi ibu-ibu karang taruna demo masak cake labu kemiri yang dipandu Kak Febri. Aku dan Milka hanya duduk memperhatikan sembari menyeruput minuman kami. Tim kreator juga menyiapkan gawai untuk merekam tutorial memasaknya. Kemudian waktu Zuhur menyapa, aku meminta izin untuk salat. Bukannya di musala terdekat, aku memilih ibadah di rumah Milka karena ingin mengetahui lokasi rumahnya biar tahu sekaligus mengenali seluk beluk desa Nalui.
Setelah salat, kami kembali lagi. Milka akhirnya meninggalkanku, dan kini giliran anak-anak Century yang demo masak cake labu kemiri dan rencananya akan dijual disini. Dalam proses pembuatan kami hanya lihai dalam menimbang bahan, saat memixer, Kak Febri lah yang turun tangan. Saat memanggang bagian atas ada yang gosong, hasilnya punya kami agak bantat. Tak sesuai dengan ekspektasi, Kak Febri menyuruh kami untuk batal menjual.
Hari semakin sore, berharap ingin pulang pukul 17.00. Tetapi, perutku agak lapar dan gak enak kalau pulang duluan. Saat meminta izin, Bang Ipang menyuruh kami bantu beberes. Jangan pulang duluan. Akhirnya, dengan perut keroncongan, aku bantu beres-beres sedikit sembari makan ditemani lauk nuget yang kami masak bersamaan dengan cake tadi dan potongan mangga yang mencuci mulut setelah makan. Tak apa lauknya tak komplit dan jauh dari kata bergizi, yang penting perutku terisi.
Hingga alunan suara mengaji dari surau terdengar, kami tak kunjung pulang. Sempat mengatur karung-karung berisi jagung yang akan kami bawa nanti, sempat foto bersama dulu.
Kami pun pulang dengan suara azan Maghrib terdengar dimana-mana, aku risau hendak ibadah dimana, setibanya di tengah perjalanan, daerah Muara Uya, aku dan Mita singgah di masjid. Sementara itu, teman-teman lain yang masih tertinggal melewati persinggahan kami ketika aku wudu. Aku tak peduli, gak papa ketinggalan rombongan, yang penting aku gak ninggalkan Tuhanku. Usai salat, langit mengguyur hujan, aku dan Mita bersegera memakai jas hujan masing-masing. Giliran Mita yang membonceng ku.
Jalanan tampak gelap, Mita membawa kendaraan dengan santai. Aku tak berharap cepat sampai, yang penting selamat. Akhirnya kamu bertemu rombongan, aku senang sekali. Tiba di tugu obor aku mengucapkan puji syukur sebanyak-banyaknya kepada Tuhan. Kami sampai di markas untuk menaruh setengah karung jagung lalu mengantar Mita ke kosnya, dan aku pun pulang ke rumahku.