Saturday, August 23, 2025

Tentang Nenek

 



Yeay, akhirnya pengen nulis lagi setelah sekian lama vakum. Jadi, kali ini aku mau bercerita tentang nenekku. Buat dijadikan pelajaran dan pengalaman. Ini tentang hubungan nenek dengan rumah sakit.

Nenek itu mau dibilang punya penyakit serius enggak, tapi hampir tiap tahun, selalu masuk rumah sakit. Sakitnya semacam magh, vertigo, tekanan darah naik, susah tidur, susah makan yang memaksa harus diinfus.

Saat itu aku masih SMP, nenek masuk RS Badarudin yang lama. Sebelum RS itu dipindah ke Maburai. Diusiaku yang terbilang masih muda dan masih anak sekolahan terpaksa menjaga nenek di rumah sakit. Karena nenek gak suka sama mama dan bapakku yang jelas-jelas anak kandungnya sendiri. Dan mama bapakku juga gak pengen mendekati beliau. Nenek lebih dekat sama aku, selalu nyariin aku. Padahal aku sendiri gak terlalu sayang banget dengan beliau. Ya, biasa-biasa aja, gak benci juga.

Meskipun mama gak akrab dengan beliau. Mama tetap yang terbaik, beliau juga tetap membantu nenek saat sakit dan mau merelakan pekerjaan rumah tangganya. Jadi aku atur waktu dengan mama. Disaat aku sekolah, mama yang jaga. Sepulang sekolah, giliran aku yang jaga sampai malam. Adil bukan?

Pengalaman jaga nenek di RS itu berasa kayak roller coaster yang dominan diliputi rasa takut, tegang dan pusing. Takut yang kumaksud bukan ketemu setan dan sebagainya. Awalnya, aku takut harus pulang subuh jam lima. Karena masih gelap dan dingin juga. Pernah saat itu hujan lebat. Aku tetap pulang dengan jas hujan, melawan dingin, penuh kehati-hatian. 

Bagaimana dengan PR-ku saat itu? Ya kubawa ke RS lah. Aku belajar disana, buku pelajaran kuangkut. Karena saat itu aku gak terlalu sering megang HP, sosial media gak seheboh sekarang. Masih tahun 2014.  

Sesekali aku harus mendengar maki-makian dan amarah dari nenek. Sampai menetes air mataku. Mulutnya pedas. Sering kali orang bertanya, kok anak kecil gitu yang jaga bukan orang dewasa. Anaknya mana? Nenek ngatain bapakku anak durhaka. Miris memang. Semoga keluarga ini bisa akur.

Selain kata-kata pedas. Kadang lelah juga menghadapi cerewetnya orang sakit. Yang suka minta ini itu tanpa mengerti keadaan. Beruntung banget sama orang yang sakit tapi mulutnya gak aneh-aneh. Gak cerewet, gak berisik, gak maki-maki, gak marah-marah. 

Selanjutnya ada juga nih pas jaman aku SMA (kalau gak salah ya, agak lupa). Ini di rumah sakit Pertamina. Nenek kami bawa ke UGD. Sambil menunggu, aku sempat ngobrol sama om-om berseragam pertamina. Tapi aku udah lupa apa topik yang diomongin wkwk. Nah aku suka banget sama pelayanan disini. Kalau ada kenapa napa, kita bisa pakai telepon. Gak perlu ke ruang perawat. Di RS ini menurutku pemandangannya bagus. Ada hamparan rumput hijau. Aku sempat berfoto di siang hati dan gak sengaja tertangkap pantulan seperti kunti terbang. Gong banget ini haha.

Pernah juga nenek dibawa ke RS badarudin terbaru. Saat itu aku sedang menikmati masa kuliah sekaligus kerja (kasir toko). Terpaksa aku ijin meninggalkan pekerjaan untuk mengurus nenek. Hasil menunjukan keadaan nenek normal-normal aja, akhirnya diinfus sekali dan dipulangkan. Sebelum ke UGD, nenek sempat hampir mau pingsan terus pelan-pelan ku bawa ke RS dan di bantu satpam perempuan menggunakan kursi roda. Tapi aku heran, gak kena penyakit parah kok bisa kek orang mau mati. Ini gak lagi ekting kan?

Di tahun 2025 ini, nenek sakit lagi. Tampaknya lebih parah. Vertigonya akut, jadi kepalanya sakit banget sampai beliau merasa tak berdaya lagi. Nenek sudah ada perawatan di RS provinsi sebelah yang lebih dekat dari rumah. Tanpa BPJS pula, biarin ! Uang beliau cukup-cukup aja untuk berobat.

Dan aku lagi-lagi jadi kandidat yang terpilih untuk jagain nenek. Selama sehari semalam aja, aku menjaga beliau. Sore itu, aku sendiri yang meminta ambulance desa untuk mengantar kami. Pengalaman unik disini tuh, aku sempat diliatin anjing saat makan, untung saja makananku sudah habis dan pelan-pelan bisa mengusir hewan itu. Sempat gerogi, takut digonggong si doggy.


Wednesday, July 17, 2024

Sharing : PKM di Toko Part 2



Setelah kehadiran Rahma, kami mengatur jadwal masuk malam. Aku agak lupa pola jadwalnya gimana, kayaknya setiap 3 hari atau 2 hari gitu, saling tukaran.


Rahma anaknya bisa dibilang agak lemot hehe tapi yakin aja sih pasti selalu ada perkembangan. Dia datang pagi-pagi, langsung kusuruh latihan menginput. Kelihatan lambat mengetiknya. It's oke, mungkin karena jarang ngelakuin ini, aku juga jauh dari kata sempurna. Yanti mulai jarang masuk. Namanya juga menjelang resign.

Rahma berkenalan dengan berbagai macam nama barang lebih cepat daripada aku. Lama kelamaan dia juga makin akrab. Pernah suatu ketika si istri bos pagi-pagi mukanya masam sekali, biasanya emang suka begitu. Tapi kali ini beda. Benar² marah. Aku bingung salahku dimana. Beberapa hari aku didiemin dia lebih senang sama Rahma malahan. Sampai aku memutuskan ijin pergi keluar kota sama nenek karena pengen benget menghindar sebelum pergi, aku chat dengan maksud minta maaf kalau ada salah kata. Padahal mager juga bepergian. Padahal bentar lagi memasuki masa magang. Tapi kelamaan ya beliau gak terlalu marah lagi. 

Mungkin momen-momen yang kuingat selama kerja adalah ketika mereka pada bikin tato sedangkan aku memilih gak ikut ikutan. Mereka diam-diam melakukannya di gudang tanpa sepengetahuan pak bos, sering banget dijodoh-jodohin anak pak Nadi Tebing Tinggi padahal saat itu aku lagi naksir sama temen aku hehe, terus keseharian aku menjelang 3 bulan sebelum resign sering bolak balik ke kampus jam 11 atau jam 13 siang buat Konsul proposal skripsi. Memasuki semester akhir aku resign dengan alasan pergi keluar daerah sama nenek.






Tuesday, July 16, 2024

Sharing : PKM di Toko part 1


Sedikit berbagi cerita, aku mengawali pekerjaan baru di tahun 2022, seharusnya aku menceritakan ini dulu sebelum masuk ke cerita tentang riam bidadari. 

Jadi, Yanti menawarkan aku pekerjaan karena dia mau resign. Posisinya sebagai admin di toko penjualan sparepart, oli dan ban. Aku senang banget dengarnya karena bisa dijadikan tempat magang nantinya. Aku saat itu sudah semester 5 akhir, magang dimulai semester 7, jadi gak ada salahnya aku mempersiapkan dari sekarang.

Hari pertama, aku langsung kerja tanpa kenalan atau interview dulu sama pemilik tokonya. Agak shock awalnya, karena bosnya berambut gondrong tapi keriting, kurus, bertato. Karena sebelumnya belum pernah berjumpa dengan orang berpenampilan seperti itu. Disini si istri dan tante yang jadi tukang masak sekaligus member gudang badannya juga gede menurutku sedangkan badanku mungil diantara mereka. Lanjut, aku hanya dilajari sama Yanti ngetik didepan komputer, menginput nota ke dalam bentuk Excel agar memudahkan saat mencari harga.

Hari demi hari kulewati, aku sudah mulai belajar mengenal lebih dalam nama dan bentuk sparepart motor hingga ke daftar harga. Karena jobdesk bukan hanya admin tapi bantu anak gudang seperti menyiapkan atau mempacking barang yang akan dibawa sales. Mereka menyuplai ke luar provinsi yaitu Kalteng dan Kaltim tapi yang masih dekat-dekat aja.

Jangan salah, disini termasuk pekerjaan paling capek banget menurutku. Barang tiba2 datang dibawa melalui ekspedisi berupa truk lalu membuka kardusnya dan menghitung jumlah barang apakah sesuai dengan nota. Menghitung sih gak terlalu berat tapi kalo datang di siang bolong ih aku benci banget. Panasnya menyengat bukan main. Kadang mukaku sampai memerah. Tapi aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa melaksanakan solat meskipun mereka tidak melakukannya. Semoga mereka mendapatkan hidayah Allah. Aamiin.

Oke, singkatnya. Aku bekerja cuma siang aja. Sama seperti Yanti. Jarang masuk malam, tidak seperti anak gudang kerjanya siang malam gaji agak gedean mereka sedikit. kalau ada lemburan kayak orderan yang banyak banget, biasanya pesanan pelanggan yg langsung nelpon bos atau mengirim ke sungai danau itu terpaksa harus lanjut kerjakan sampai malam. Setidaknya sampe tengah malam lah. Pernah sekali aku pulang tengah malam, dijalan ketemu bau-bau wangi gitu kayak pandan atau melati.

3 bulan berturut-turut sebelum aku disuruh  bisa masuk malam, aku sempat terpikir pengen resign. Kena mental. Aku agak lupa kenapa sempat kepikiran, tapi kayaknya memang aku hampir gak kuat waktu itu. Mana gaji cuma 1 juta sebulan. Qodarullah, di bulan ketiga tepat dengan bulan puasa aku bisa bekerja dengan puasa meskipun disekelilingku terutama cowok banyak yang sahur disiang bolong. Dan sehari sebelum hari raya dapat THR dan sembako. Itu pun aku berdua dengan istri bos beli paketan parsel dengan melewati jembatan gantung. Jadi agak gemetaran. Itu yang buat aku jadi yakin tetap lanjut bekerja.

5 bulan bekerja ada anak baru jadi admin tambahan. Si Yanti belum resign juga, dia ditahan terus sama bos, dan akhirnya sepakat ia kerja sesuka hatinya cuma audit-audit barang yang katanya mau dikembangkan ke sistem. Dan di bulan ini juga, aku mulai megang sistem toko di komputer, setiap barang masuk diinput ke sistem dan kita bisa melihat berapa stok barang akhir tapi khusus barang yang disimpan di gudang. Itupun sering banget selisih padahal selalu dicatat setiap pengeluaranny,a kadang adu mulut cuma perkara ini doang. Anak gudang gak mau disalahkan, admin juga sebenarnya capek memanipulasi data supaya balance.

Jadi si anak baru ini namanya Rahma. Dia cikal bakal yang menjadi teman shiftku untuk masuk malam, karena sebelumnya si pak bos menawariku masuk malam tapi kuberi penjelasan kalau aku gak bisa masuk tiap malam karena ada tugas kuliah yang harus kukerjakan.  

Jadi, apa yang terjadi setelah kemunculan si rahma? Oke, besok lanjut part 2  dengan gambar pake jas almet + cover pkmku. 

aku ngantuk bangettt



Monday, February 6, 2023

Riam Bidadari


Setelah dibujuk resign berkali-kali sama si Yanti, dan direncanakan meninggalkan toko bulan Maret. Akhirnya rencana itu diluar dugaan. Aku lebih cepat mengundurkan diri.
Nah, di akhir Januari ini, tanggal 29. Aku, Yanti, Iffah dan Riska piknik ke riam bidadari. Awalnya, aku dan Yanti mengira akan mengambil libur saja. Rupanya libur selamanya.

Kami menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Segala persiapan kami lakukan sebelum berangkat, seperti menyewa Bbq-an, Snack sesuai inisial, tripod, dan lain-lain. 

Tiba disana, kami disuguhkan dengan pemandangan sungai yang indah menurutku. Kami menyewa karpet dan menikmati Snack Maxcorn, Happy tos dan Rin-bee. Setelah itu, kami menyusuri sungai tanpa alas kaki, menginjak bebatuan, berfoto bersama.

Kami mampir ke kantin di tepi sungai. Kantin tersebut berjualan Aneka minuman, gorengan dan Snack. Kami kehausan, kami memilih minuman dingin, seperti cappucino.

Perut mulai keroncongan, kami menyalakan kompor untuk memasak beef, daging ayam, dan Suki. Kami masak berkali-kali dengan sebutan ronde. Ronde pertama, aku sangat menikmati beef yang dibungkus selada. Kupikir, makanan ini cocok ditambah nasi. Jadi, aku makan bersama nasi. Ueenak pool.

Ronde kedua, aku merasa agak kenyang. Jadi fokus makan beef, ayam dan Suki saja tanpa nasi. Ronde ketiga, kami menikmati bersama Indomie goreng. Uh, semakin nikmat dan perut mulai penuh. Ronde keempat, mulai kekenyangan. Makanan sudah masak, namun rintik hujan mengguyur. Kami terpaksa buru-buru merapikan elemen-elemen yang berada di atas karpet, mematikan kompor, memasukkan sisa makanan ke wadah bekal.

Mereka bertiga sudah menghindari karpet dan berteduh di tenda para penjaga riam. Aku masih tertinggal karena isi tasku berjatuhan. Saat ingin menyusul mereka, hujan berhenti. Kami melanjutkan ronde keempat. Aku makan tak sebanyak mereka lagi karena kekenyangan.

Setelah beberes, kami mencuci peralatan. Mereka bertiga ke sungai, aku menjaga karpet karena malas nyuci hehe. Selanjutnya, kami meninggalkan Riam bidadari lalu menunaikan salat Zuhur di sebuah masjid. Di perjalanan pulang, aku menyalip Yanti yang membonceng Riska karena mereka lambat sekali. Sedangkan aku dan Iffah ingin sekali pulang ke rumah.

Saturday, April 16, 2022

Emelda Agustina X TBS 1

Emel 


Cerita ku…

Hai aku Emelda Agustina, Banyak banget pengalaman yang sudah aku lewati di umur 14 tahun ini salah satunya adalah mengikuti kegiatan drumband/marshingband. Dari sejak kelas 6 sd aku sudah ikut drumband, karena lulus SD jadi aku berhenti mengikuti drumband. Masuklah aku ke smp 6 Tanjung didesa aku sendiri sampai kelas 3 smp aku ditawarkan oleh pelatih drumband ku untuk masuk marshingband tetapi tempat latihannya lumayan jauh yaitu di smp 1 Tanjung jadi latihannya seperti gabung dengan mereka karena saat itu kita ingin tampil parade di taman tanjung. Setelah tampil di taman tanjung kami juga ada tampil disalah satu tempat pernikahan teman pelatih kami di pangkalan.

Setelah beberapa kali tampil akhirnya tempat latihan mashingband berganti di Expo, saat itu latihannya tidak lagi bergabung dengan smp 1 Tanjung tetapi bergabung dengan sekolah SMKN 1Tanjung yang kelas 10 dan 11 nya, waktu itu hanya aku dan 1 orang teman aku yang SMP.

Hampir setengah jam dari rumah aku dan teman saya ke Expo tempat latihan sebenernya takut banget kalo di jalan ada terjadi apa-apa dengan kami dan pulangnya juga sore banget sampe rumah sudah hampir malam belum lagi orang tua teman saya yang selalu marah-marah dengannya dan akhirnya teman saya memutuskan untuk berhenti ikut marshingband.

Saat itu Alhamdulillah orang tua aku masih memaklumi tapi karena  saat itu masih smp dan aku juga masih belum berani naik sepeda motor sendirian sampai sejauh itu jadi aku juga ikut berheti mengikuti marshingband.

Masuk SMKN 1 Tanjung tahun 2021 saat itu masih dalam keadaan pandemi, entah beberapa bulan belajar daring setelah itu belajar tatap muka, waktu itu pengen banget ikut ekskul tari atau dance tapi ternyata waktu itu exskulnya lagi kada aktif, jadi bingung deh mau ikut ekskul apa, waktu itu aku chat teman yang pernah ikut marshingband ternyata dia juga bingung, karena besic kami berdua marshingband dari smp yaudah deh jadi kami berdua ikut marshingband lagi.

Tempat latihan nya masih sama yaitu di Expo, setelah beberapa minggu latihan ternyata kata Abang pelatih kami, kita akan mengikuti Event ASIAN Music Game, Seneng banget rasanya akhirnya bisa ikut lomba karna ikut lomba latihannya pun jadi setiap hari, karna temen aku ga dibolehin latihan setiap hari dan pulang hampir mau malam terus jadi dia keluar dari Marsgungband. Sempat mikir gimana aku berangkan dari kambitin ke Expo sendirian, Ternyata ada salah satu temenku lagi dari kambitin yang mau ikut Marshingband, seneng banget akhirnya ga jadi berangkat sendiri latihan.

Saat itu Alhamdulillah Tim CG atau pemain yang megang bendera Menang juara 2 tingkat Nasional tentu tidak mudah. tag video pertama di Aula SMKN 1 Tanjung saat itu pengambilan video bergantian dengan tim yang lain.Butuh waktu berjam-jam untuk mencari video terbaik dari jam 5 sore sampai jam 9 malam. Beberapa video sudah ada, di video terakhir masih belum sempurna masih banyak yang salah-salah disetiap gerakan sedangkan teman aku yang berbeda tim sudah selesai tag video, jadi saat itu temen aku nungguin aku sampe malam, sedangkan orang tuanya sudah menelpon berkali-kali untuk menyuruh dia cepat pulang.

Saat itu, temen aku langsung nangis bukan karena takut dimarahi orang tuanya tapi merasa bersalah karena aku juga harus ikut pulang sama dia karna 1 sepeda motor sedangkan beberapa video masih belum sempurna. Aku juga sedih saat itu karna merasa bersalah intinya serba salah deh jadinya. Akhirnya tag video sekali lagi terus aku langsung cepet-cepet pulang sama temen aku. Karna temen aku dimarahin orang tuanyan jadi dia disuruh keluar dari MB.

Setelah menang juara 2 kami masih harus melawan beberapa Negara jadi harus tag video lagi yang kedua, tag video ini tentu berbeda tempat yaitu di Kalimantan tengah, pasar panas saat pengambilan video cuaca kurang mendukung jadi kami terpaksa menggunakan lapangan yang sedikit basah. Tag video yang kedua ini kami tidak juara tapi kami dapat banyak pelajaran.

Setelah ikut lomba tim kami disuruh untuk tampil di SMKN 1 Tanjung sekaligus peyerahan mendali, jujur tampil disemea adalah tampil yang paling bikin panas dingin karena pertama kali dilihat oleh banyak orang.

Setelah tampil penyerahan sertifikat oleh ibu Lis, terus langsung berangkat ke kantor bupati bersama ibu Lis untuk foto bareng dengan Bapak Anang. Jujur pertama kalinya melihat bapak bupati langsung. Setelah itu kami diteraktir makan sama ibu Lis di wong solo pas banget waktu itu belum makan dari pagi.

Note : drumband & marshingband berbeda ya.

Friday, February 4, 2022

Cimol dan Cimoy


 
Meong. Namaku Cimol kucing kesayangan Kakak Wanah yang katanya ada bau-baunya. Aku lahir dari rahimnya Si Kecil dengan ciri badan agak gempal tapi disukai Kakak Tia juga.
Aku suka tidur di atas bantal kemudian deketin Kakak Wanah, dia juga seneng dideketin aku walau pujiannya Omol agak bau katanya. Disamping bantal ada kardus isi air mineral, aku coba tidur disitu, ternyata nyaman banget.
Hmm, suatu hari aku penasaran dengan lem plester di bawah tipi, lalu aku coba masuk, kirain dalam kayak sumur ternyata enggak, akhirnya aku diliput di Instagram Kakak Emel. kadang Kakak Emel juga suka motoin aku diam-diam terus dikirim ke temannya. Huhuhu.
Aku punya masalah besar meong, ternyata aku juga punya kutu, terus Kakak Tia suka nyarikan kutu yang hinggap di badanku, tapi aku gak mau, geli tau, eww!
Selain itu, aku juga suka digendong kayak Abang Muza. Tapi aku gak suka, rasanya gak enak hihi. Tapi aku suka niruin Abang Muza melongok  di jendela.
Kakak Wanah juga ngajarin aku beol di toilet pasir, jadi kalau kebelet aku lari deh terbirit-birit ala kesetanan.
Buat memacu adrenalin, aku kadang belajar manjat tiang, gulungan karpet. Tapi aku masih takut ditaruh di atas pondasi rumah baru, Om Bidin suka banget naruh aku dan Cimoy disitu. Aku masih takut buat turun meloncat ke bawah. Aku kalah sama Cimoy huhu. Alhasil, aku dibantu  Kakak Wanah turun.
Oh iya, kalau bosen tidur di kardus atau bantal, aku juga suka tidur di sofa hijau teras rumah. 
*Ternyata itulah hari terakhir Cimol. Bersamaan datangnya Cimot di pagi buta yang mukanya agak mirip. Malam harinya Cimol senang sekali bermain di jalan hingga ditabrak orang.
Meong, aku Cimoy. Adiknya Kakak Cimol. Aku kucing yang jarang tersorot kamera karena waktu lahir mataku berkarak, huhu. Tapi setelah bersih, Om Bidin memuji aku, katanya lebih bungas (baca: aura ganteng/cantiknya terlihat). Aku juga sama dengan Kakak Cimol udah pinter beol sendiri. Kami sering berantem biar nanti sama-sama kuat. Tapi setelah Kakak Cimol gak ada. Mama (Si Kecil) jarang di rumah. Akhirnya aku jarang minum ASI, males makan, hingga penyakitan. Aku gak kuat lagi guys! Itu foto aku bareng Kakak Cimol.
*Sebulan kemudian, Cimoy mati karena gak sanggup menahan sakitnya.



Wednesday, January 5, 2022

liburan akhir tahun

Wah, ini blog pertama aku di tahun 2022, sayangnya setelah beberapa hari baru bisa post. 
Jadi, tepat hari Jumat tgl 31 Desember. Aku, Tya, Emel dan Mama mengunjungi adik nenek paling bungsu di provinsi sebelah. Ini perjalanan terjauh kami selama menggunakan sepeda motor dengan jarak sekitar 120an KM gitulah.

Nah, saat tiba di perbatasan kalsel-kaltim. Kami istirahat sebentar buat melepas penat terutama di bokong, hehe. Sejak di jalan aku pen banget minum minuman soda. Akhirnya tercapai lah keinginanku. Mama memilih es degan dan Tya minum air kelapa murni. Di area ini cukup ramai, karena memang dijadikan rest area. Tapi sinyalnya gak ada sama sekali, huhu.

Kami melanjutkan perjalanan dengan kecepatan lebih lambat dari sebelumnya. Mencari pasar Muara Komam, Tya dua kali bertanya sama orang-orang yang kami temui, mama jadi sebal.
 
Tibalah kami di Muara Komam, jalanan lebih luas dengan lampu ditengahnya tapi situasi nya lengang, ada juga Polsek. Wah, disini sudah ditemukan tanda-tanda kehidupan sinyal terutama internet. Kami menunggu nenek di pasar dan akhirnya meluncur ke rumahnya. Eh, tiba disana Tya lupa bawa bolu matcha buatan dia malam tadi.

Sore hari, rasanya belum afdol kalau tidak berjalan-jalan untuk mengamati dunia sekitar. Jadi, setelah asar tanpa kegiatan mandi-mandian karena merasa sudah cantik, aku dan kedua adikku naik motor, jalan-jalan menyusuri kota kecil ini.

Di sisi kiri, ada sungai yang sama pada umumnya dan sisi kanan ada gunung-gunung tinggi yang diperkirakan sekitar ratusan meter. Kami berjumpa objek wisata gua, tapi gak berani naik karena ada penunggunya. Yaitu kawanan monyet yang kelaparan. Next, kami lanjut. Melihat gunung yang terdiri dari batu dan terletak di belakang rumah warga. Sempat kepikiran sih, takut longsor.  Sebelah sungai, tepatnya di seberang sana juga gunung, kami melihat ada tambang disana dan kami temui jembatan layang, yang rata2 di bawahnya mobil-mobil truk pengangkut batu bara, walaupun gak ada satupun mobil yang lewat dibawah itu hehe.
Nah, tujuan Tya dan Emel itu sebenarnya mau ke Batu Kajang yang katanya lebih ramai dari Muara Komam. Saat aku upload gambar gerbang perbatasan di story WhatsApp, temanku yang tinggal di wilayah Kaltim merespon. Salahsatu diantaranya ada yang di Batu Kajang.

Merasa kejauhan kami putar balik, dan membeli dua kebab pedas dan satu burger. Karena ada orang yang bersantai di halaman MTs yang begitu indah, dihiasi kolam hias. Kami memilih makan disitu daripada di bawa pulang tapi gak bawakan mama dan nenek?

Tiba di rumah, pintunya dikunci. Mama dan nenek rupanya jalan-jalan juga. Sampai azan Maghrib berkumandang belum datang juga. Hedeh.

Singkat cerita, malam harinya setelah isya pesan WhatsApp ku dibalas Tiara. Dia teman kampusku yang tinggal disini. Tanpa ba-bi-bu, aku dan dia nekat keluar rumah menyambut moment tahun baru. Tapi gak sampai jam 12 malam juga sih.
Aku dan Tiara cuma bersantai sambil bercerita di cafe yang sederhana. Cuma memesan segelas jus naga dan alpukat.
Tya dan Emel juga menyusul.

Esoknya, aku, Mama, Tya dan Emel jalan-jalan lagi ke arah Batu Kajang. Lagi-lagi kami gak sanggup. Katanya cuma 15 menit kesana ternyata omong kosong. Apa karena mereka kalau jalan-jalan di daerah gunung-gunung kek gini kecepatannya sama orang balapan?
Kami yang ingin ke bukit Teletubbies juga gak kesampaian, cuma sampai akarnya.
Sebelum pulang ke habitat asal, kami mampir lagi ke gua. Kali ini kami semua mampu melewati tangga yang curam hingga ke pucuknya. Merdeka!
 
Gua ini sebenarnya bau sih, makanya gak minat banget masuk ke dalam.

Oke, sebelum berakhir kami pulang, dan selamat sampai ke perbatasan. Kalo ini kami tidak singgah lagi. Tapi Tya mengajak kami ke air terjun Lano. Aku dan Emel antusias ingin berjalan menuju air terjun dengan jarak tempuh 600 meter. Mama dan Tya memilih nyerah di 100 meter karena takut dengan rintangan berikutnya dan Tya sudah pernah kesini beberapa tahun lalu. Tya menyerahkan sandalnya, sebelumnya aku nyeker karena gak kebagian saat di persewaan sandal jepit.
Aku dan Emel berjuang lagi melewati berbagai rintangan, menyebrang aliran air. Dan tiba di 500 meter. Aku dan Emel mengakhiri segalanya karena ingin menghemat waktu pulang. Disini hanya bertemu, anak air terjun yang tingginya gak seberapa.
Maaf, karena masa depanku masih suram seperti gambar ini. Jadi bagi aku, terlalu mahal untuk memposting foto yang lebih jernih. Sekian.

Tentang Nenek

  Yeay, akhirnya pengen nulis lagi setelah sekian lama vakum. Jadi, kali ini aku mau bercerita tentang nenekku. Buat dijadikan pelajaran dan...