Jadi, tepat hari Jumat tgl 31 Desember. Aku, Tya, Emel dan Mama mengunjungi adik nenek paling bungsu di provinsi sebelah. Ini perjalanan terjauh kami selama menggunakan sepeda motor dengan jarak sekitar 120an KM gitulah.
Nah, saat tiba di perbatasan kalsel-kaltim. Kami istirahat sebentar buat melepas penat terutama di bokong, hehe. Sejak di jalan aku pen banget minum minuman soda. Akhirnya tercapai lah keinginanku. Mama memilih es degan dan Tya minum air kelapa murni. Di area ini cukup ramai, karena memang dijadikan rest area. Tapi sinyalnya gak ada sama sekali, huhu.
Kami melanjutkan perjalanan dengan kecepatan lebih lambat dari sebelumnya. Mencari pasar Muara Komam, Tya dua kali bertanya sama orang-orang yang kami temui, mama jadi sebal.
Tibalah kami di Muara Komam, jalanan lebih luas dengan lampu ditengahnya tapi situasi nya lengang, ada juga Polsek. Wah, disini sudah ditemukan tanda-tanda kehidupan sinyal terutama internet. Kami menunggu nenek di pasar dan akhirnya meluncur ke rumahnya. Eh, tiba disana Tya lupa bawa bolu matcha buatan dia malam tadi.
Sore hari, rasanya belum afdol kalau tidak berjalan-jalan untuk mengamati dunia sekitar. Jadi, setelah asar tanpa kegiatan mandi-mandian karena merasa sudah cantik, aku dan kedua adikku naik motor, jalan-jalan menyusuri kota kecil ini.
Di sisi kiri, ada sungai yang sama pada umumnya dan sisi kanan ada gunung-gunung tinggi yang diperkirakan sekitar ratusan meter. Kami berjumpa objek wisata gua, tapi gak berani naik karena ada penunggunya. Yaitu kawanan monyet yang kelaparan. Next, kami lanjut. Melihat gunung yang terdiri dari batu dan terletak di belakang rumah warga. Sempat kepikiran sih, takut longsor. Sebelah sungai, tepatnya di seberang sana juga gunung, kami melihat ada tambang disana dan kami temui jembatan layang, yang rata2 di bawahnya mobil-mobil truk pengangkut batu bara, walaupun gak ada satupun mobil yang lewat dibawah itu hehe.
Nah, tujuan Tya dan Emel itu sebenarnya mau ke Batu Kajang yang katanya lebih ramai dari Muara Komam. Saat aku upload gambar gerbang perbatasan di story WhatsApp, temanku yang tinggal di wilayah Kaltim merespon. Salahsatu diantaranya ada yang di Batu Kajang.
Merasa kejauhan kami putar balik, dan membeli dua kebab pedas dan satu burger. Karena ada orang yang bersantai di halaman MTs yang begitu indah, dihiasi kolam hias. Kami memilih makan disitu daripada di bawa pulang tapi gak bawakan mama dan nenek?
Tiba di rumah, pintunya dikunci. Mama dan nenek rupanya jalan-jalan juga. Sampai azan Maghrib berkumandang belum datang juga. Hedeh.
Singkat cerita, malam harinya setelah isya pesan WhatsApp ku dibalas Tiara. Dia teman kampusku yang tinggal disini. Tanpa ba-bi-bu, aku dan dia nekat keluar rumah menyambut moment tahun baru. Tapi gak sampai jam 12 malam juga sih.
Aku dan Tiara cuma bersantai sambil bercerita di cafe yang sederhana. Cuma memesan segelas jus naga dan alpukat.
Tya dan Emel juga menyusul.
Esoknya, aku, Mama, Tya dan Emel jalan-jalan lagi ke arah Batu Kajang. Lagi-lagi kami gak sanggup. Katanya cuma 15 menit kesana ternyata omong kosong. Apa karena mereka kalau jalan-jalan di daerah gunung-gunung kek gini kecepatannya sama orang balapan?
Kami yang ingin ke bukit Teletubbies juga gak kesampaian, cuma sampai akarnya.
Sebelum pulang ke habitat asal, kami mampir lagi ke gua. Kali ini kami semua mampu melewati tangga yang curam hingga ke pucuknya. Merdeka!
Gua ini sebenarnya bau sih, makanya gak minat banget masuk ke dalam.
Oke, sebelum berakhir kami pulang, dan selamat sampai ke perbatasan. Kalo ini kami tidak singgah lagi. Tapi Tya mengajak kami ke air terjun Lano. Aku dan Emel antusias ingin berjalan menuju air terjun dengan jarak tempuh 600 meter. Mama dan Tya memilih nyerah di 100 meter karena takut dengan rintangan berikutnya dan Tya sudah pernah kesini beberapa tahun lalu. Tya menyerahkan sandalnya, sebelumnya aku nyeker karena gak kebagian saat di persewaan sandal jepit.
Aku dan Emel berjuang lagi melewati berbagai rintangan, menyebrang aliran air. Dan tiba di 500 meter. Aku dan Emel mengakhiri segalanya karena ingin menghemat waktu pulang. Disini hanya bertemu, anak air terjun yang tingginya gak seberapa.
Maaf, karena masa depanku masih suram seperti gambar ini. Jadi bagi aku, terlalu mahal untuk memposting foto yang lebih jernih. Sekian.
No comments:
Post a Comment