Aku iseng-iseng ikut lomba duta baca Tabalong (Kabupaten di daerahku). Niatnya sih, pen jadi idola gitu, hehe. Aku mengikuti serangkaian lombanya, diawali dengan meminjam buku Radikus makankakus karya Raditya Dika. Tetapi, aku merasa kurang cocok, akhirnya aku ke perpustakaan lagi untuk minjam buku Rentang Kisah karya Gita Savitri Devi. Bagiku, ini ceritanya inspiratif.
Setelah itu meresensinya dengan menulis di kertas folio. Aku mengumpulnya dan memotocopy agar mudah menghafal. Aku hafalin terus sampai seminggu, bahkan saat bantu mamaku menyadap karet, kusempat - sempatin buat ngapalin biar lancar jaya.
Hari H, yaitu presentasi resensi. Aku berusaha bangun lebih pagi dan datang sebelum jam yang ditentukan dimulai. Dari rumah, aku agak gugup. Berulang kali aku membaca shalawat dan alam nasyrah biar tenang, itu pesan mba Nana.
Satu jam kami menunggu juri datang. Acara dimulai, peserta pertama tampil, sedangkan yang lain menunggu diluar aula. Aku mendapatkan teman-teman yang positif vibes selama menunggu giliran, seperti pelajar dari Aliyah, perempuan dari mahasiswa perwakilan dari STIT SMN, Kaka tingkat dari kampusku, aku gak nyangka perwakilan dari kampus kami ada dua orang. Ka Bahrul yang satu kampus dengan kakak perempuan itu mondar mandir menemui aku, kami berbincang gak jelas. Kayaknya dia emang suka temenan sama aku, hahaha.
Cukup lama menunggu, sampai azan zuhur nomorku belum terpanggil, padahal no 02. Karena sistem arisan jadi gak urut. Kami diberi snack kotakan dan sekotak nasi. Setelah yang disebut bukan nomorku, aku memilih sholat dulu. Kemudian, namaku belum juga disebut, aku memilih untuk makan siang. Walaupun tak senikmat lesehan.
Sempat bercanda-canda dengan adik-adik Aliyah, akhirnya nomor 02 dipanggil. Ketika tampil, dadaku bergetar tak keruan. Awalnya ingin menjelaskan "Rentang Kisah adalah..." Menjadi "Gita Savitri Devi adalah...."
Astaghfirullah. Terbaalik!!!
Semakin lama berbicara gugupku berkurang. Aku PD menjawab pertanyaan dari juri. Tetapi ketika ditanya, Unsur- unsur Resensi. Ya Allah, aku gak mempelajari itu sama sekali. Jangankan unsur-unsurnya, mencari pengertian resensi aja pas nunggu giliran.
Aduh, aku yakin gak bakalan menang, ternyata kalau niatnya gak baik. Hasil akhirnya emang kurang ajar.
Peserta lomba memasuki aula, saatnya pengumuman. Juara harapan 2, Kaka tingkatku yang meraihnya. Wah, gak nyangka. Padahal dia kurang ngerti sama isi novelnya mungkin public speaking nya bagus, dan cukup PD. Aku bangga sama anak-anak Aliyah, dua diantaranya dapat harapan 1 dan juara 3. Padahal aku sempat mengira sekolah unggulan dengan rok kotak-kotak itu yang akan juara diantara mereka dengan jumlah pasukan 6 orang (terbanyak). Sudah mewanti-wanti mereka bakalan menang begitupun SMA lain. Ka Bahrul jadi peringkat 2. Yang pertama kakak perempuan itu. Gak nyangka banget. Awalnya aku dengan PD bilang, "padahal kalau peserta lainnya di dalam (menyaksikan presentasi) gak ngaruh," ucapku. "Ngaruh sih, tambah gugup" katanya. Tak disangka-sangka, dia menjadi DUTA BACA TABALONG tahun ini. Kupeluk dia seolah-olah sok akrab. Hahaha, ternyata aku sehumble itu.
Akhir cerita, aku ikut berfoto dengan Kating dan adik-adik Aliyah, biar kesannya jadi memorable. (Sorry, gak ada berfoto sama rangking 1 dan 2. Posisi diujung sebelah kanan.)
No comments:
Post a Comment