Tuesday, July 16, 2024

Sharing : PKM di Toko part 1


Sedikit berbagi cerita, aku mengawali pekerjaan baru di tahun 2022, seharusnya aku menceritakan ini dulu sebelum masuk ke cerita tentang riam bidadari. 

Jadi, Yanti menawarkan aku pekerjaan karena dia mau resign. Posisinya sebagai admin di toko penjualan sparepart, oli dan ban. Aku senang banget dengarnya karena bisa dijadikan tempat magang nantinya. Aku saat itu sudah semester 5 akhir, magang dimulai semester 7, jadi gak ada salahnya aku mempersiapkan dari sekarang.

Hari pertama, aku langsung kerja tanpa kenalan atau interview dulu sama pemilik tokonya. Agak shock awalnya, karena bosnya berambut gondrong tapi keriting, kurus, bertato. Karena sebelumnya belum pernah berjumpa dengan orang berpenampilan seperti itu. Disini si istri dan tante yang jadi tukang masak sekaligus member gudang badannya juga gede menurutku sedangkan badanku mungil diantara mereka. Lanjut, aku hanya dilajari sama Yanti ngetik didepan komputer, menginput nota ke dalam bentuk Excel agar memudahkan saat mencari harga.

Hari demi hari kulewati, aku sudah mulai belajar mengenal lebih dalam nama dan bentuk sparepart motor hingga ke daftar harga. Karena jobdesk bukan hanya admin tapi bantu anak gudang seperti menyiapkan atau mempacking barang yang akan dibawa sales. Mereka menyuplai ke luar provinsi yaitu Kalteng dan Kaltim tapi yang masih dekat-dekat aja.

Jangan salah, disini termasuk pekerjaan paling capek banget menurutku. Barang tiba2 datang dibawa melalui ekspedisi berupa truk lalu membuka kardusnya dan menghitung jumlah barang apakah sesuai dengan nota. Menghitung sih gak terlalu berat tapi kalo datang di siang bolong ih aku benci banget. Panasnya menyengat bukan main. Kadang mukaku sampai memerah. Tapi aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa melaksanakan solat meskipun mereka tidak melakukannya. Semoga mereka mendapatkan hidayah Allah. Aamiin.

Oke, singkatnya. Aku bekerja cuma siang aja. Sama seperti Yanti. Jarang masuk malam, tidak seperti anak gudang kerjanya siang malam gaji agak gedean mereka sedikit. kalau ada lemburan kayak orderan yang banyak banget, biasanya pesanan pelanggan yg langsung nelpon bos atau mengirim ke sungai danau itu terpaksa harus lanjut kerjakan sampai malam. Setidaknya sampe tengah malam lah. Pernah sekali aku pulang tengah malam, dijalan ketemu bau-bau wangi gitu kayak pandan atau melati.

3 bulan berturut-turut sebelum aku disuruh  bisa masuk malam, aku sempat terpikir pengen resign. Kena mental. Aku agak lupa kenapa sempat kepikiran, tapi kayaknya memang aku hampir gak kuat waktu itu. Mana gaji cuma 1 juta sebulan. Qodarullah, di bulan ketiga tepat dengan bulan puasa aku bisa bekerja dengan puasa meskipun disekelilingku terutama cowok banyak yang sahur disiang bolong. Dan sehari sebelum hari raya dapat THR dan sembako. Itu pun aku berdua dengan istri bos beli paketan parsel dengan melewati jembatan gantung. Jadi agak gemetaran. Itu yang buat aku jadi yakin tetap lanjut bekerja.

5 bulan bekerja ada anak baru jadi admin tambahan. Si Yanti belum resign juga, dia ditahan terus sama bos, dan akhirnya sepakat ia kerja sesuka hatinya cuma audit-audit barang yang katanya mau dikembangkan ke sistem. Dan di bulan ini juga, aku mulai megang sistem toko di komputer, setiap barang masuk diinput ke sistem dan kita bisa melihat berapa stok barang akhir tapi khusus barang yang disimpan di gudang. Itupun sering banget selisih padahal selalu dicatat setiap pengeluaranny,a kadang adu mulut cuma perkara ini doang. Anak gudang gak mau disalahkan, admin juga sebenarnya capek memanipulasi data supaya balance.

Jadi si anak baru ini namanya Rahma. Dia cikal bakal yang menjadi teman shiftku untuk masuk malam, karena sebelumnya si pak bos menawariku masuk malam tapi kuberi penjelasan kalau aku gak bisa masuk tiap malam karena ada tugas kuliah yang harus kukerjakan.  

Jadi, apa yang terjadi setelah kemunculan si rahma? Oke, besok lanjut part 2  dengan gambar pake jas almet + cover pkmku. 

aku ngantuk bangettt



Monday, February 6, 2023

Riam Bidadari


Setelah dibujuk resign berkali-kali sama si Yanti, dan direncanakan meninggalkan toko bulan Maret. Akhirnya rencana itu diluar dugaan. Aku lebih cepat mengundurkan diri.
Nah, di akhir Januari ini, tanggal 29. Aku, Yanti, Iffah dan Riska piknik ke riam bidadari. Awalnya, aku dan Yanti mengira akan mengambil libur saja. Rupanya libur selamanya.

Kami menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Segala persiapan kami lakukan sebelum berangkat, seperti menyewa Bbq-an, Snack sesuai inisial, tripod, dan lain-lain. 

Tiba disana, kami disuguhkan dengan pemandangan sungai yang indah menurutku. Kami menyewa karpet dan menikmati Snack Maxcorn, Happy tos dan Rin-bee. Setelah itu, kami menyusuri sungai tanpa alas kaki, menginjak bebatuan, berfoto bersama.

Kami mampir ke kantin di tepi sungai. Kantin tersebut berjualan Aneka minuman, gorengan dan Snack. Kami kehausan, kami memilih minuman dingin, seperti cappucino.

Perut mulai keroncongan, kami menyalakan kompor untuk memasak beef, daging ayam, dan Suki. Kami masak berkali-kali dengan sebutan ronde. Ronde pertama, aku sangat menikmati beef yang dibungkus selada. Kupikir, makanan ini cocok ditambah nasi. Jadi, aku makan bersama nasi. Ueenak pool.

Ronde kedua, aku merasa agak kenyang. Jadi fokus makan beef, ayam dan Suki saja tanpa nasi. Ronde ketiga, kami menikmati bersama Indomie goreng. Uh, semakin nikmat dan perut mulai penuh. Ronde keempat, mulai kekenyangan. Makanan sudah masak, namun rintik hujan mengguyur. Kami terpaksa buru-buru merapikan elemen-elemen yang berada di atas karpet, mematikan kompor, memasukkan sisa makanan ke wadah bekal.

Mereka bertiga sudah menghindari karpet dan berteduh di tenda para penjaga riam. Aku masih tertinggal karena isi tasku berjatuhan. Saat ingin menyusul mereka, hujan berhenti. Kami melanjutkan ronde keempat. Aku makan tak sebanyak mereka lagi karena kekenyangan.

Setelah beberes, kami mencuci peralatan. Mereka bertiga ke sungai, aku menjaga karpet karena malas nyuci hehe. Selanjutnya, kami meninggalkan Riam bidadari lalu menunaikan salat Zuhur di sebuah masjid. Di perjalanan pulang, aku menyalip Yanti yang membonceng Riska karena mereka lambat sekali. Sedangkan aku dan Iffah ingin sekali pulang ke rumah.

Saturday, April 16, 2022

Emelda Agustina X TBS 1

Emel 


Cerita ku…

Hai aku Emelda Agustina, Banyak banget pengalaman yang sudah aku lewati di umur 14 tahun ini salah satunya adalah mengikuti kegiatan drumband/marshingband. Dari sejak kelas 6 sd aku sudah ikut drumband, karena lulus SD jadi aku berhenti mengikuti drumband. Masuklah aku ke smp 6 Tanjung didesa aku sendiri sampai kelas 3 smp aku ditawarkan oleh pelatih drumband ku untuk masuk marshingband tetapi tempat latihannya lumayan jauh yaitu di smp 1 Tanjung jadi latihannya seperti gabung dengan mereka karena saat itu kita ingin tampil parade di taman tanjung. Setelah tampil di taman tanjung kami juga ada tampil disalah satu tempat pernikahan teman pelatih kami di pangkalan.

Setelah beberapa kali tampil akhirnya tempat latihan mashingband berganti di Expo, saat itu latihannya tidak lagi bergabung dengan smp 1 Tanjung tetapi bergabung dengan sekolah SMKN 1Tanjung yang kelas 10 dan 11 nya, waktu itu hanya aku dan 1 orang teman aku yang SMP.

Hampir setengah jam dari rumah aku dan teman saya ke Expo tempat latihan sebenernya takut banget kalo di jalan ada terjadi apa-apa dengan kami dan pulangnya juga sore banget sampe rumah sudah hampir malam belum lagi orang tua teman saya yang selalu marah-marah dengannya dan akhirnya teman saya memutuskan untuk berhenti ikut marshingband.

Saat itu Alhamdulillah orang tua aku masih memaklumi tapi karena  saat itu masih smp dan aku juga masih belum berani naik sepeda motor sendirian sampai sejauh itu jadi aku juga ikut berheti mengikuti marshingband.

Masuk SMKN 1 Tanjung tahun 2021 saat itu masih dalam keadaan pandemi, entah beberapa bulan belajar daring setelah itu belajar tatap muka, waktu itu pengen banget ikut ekskul tari atau dance tapi ternyata waktu itu exskulnya lagi kada aktif, jadi bingung deh mau ikut ekskul apa, waktu itu aku chat teman yang pernah ikut marshingband ternyata dia juga bingung, karena besic kami berdua marshingband dari smp yaudah deh jadi kami berdua ikut marshingband lagi.

Tempat latihan nya masih sama yaitu di Expo, setelah beberapa minggu latihan ternyata kata Abang pelatih kami, kita akan mengikuti Event ASIAN Music Game, Seneng banget rasanya akhirnya bisa ikut lomba karna ikut lomba latihannya pun jadi setiap hari, karna temen aku ga dibolehin latihan setiap hari dan pulang hampir mau malam terus jadi dia keluar dari Marsgungband. Sempat mikir gimana aku berangkan dari kambitin ke Expo sendirian, Ternyata ada salah satu temenku lagi dari kambitin yang mau ikut Marshingband, seneng banget akhirnya ga jadi berangkat sendiri latihan.

Saat itu Alhamdulillah Tim CG atau pemain yang megang bendera Menang juara 2 tingkat Nasional tentu tidak mudah. tag video pertama di Aula SMKN 1 Tanjung saat itu pengambilan video bergantian dengan tim yang lain.Butuh waktu berjam-jam untuk mencari video terbaik dari jam 5 sore sampai jam 9 malam. Beberapa video sudah ada, di video terakhir masih belum sempurna masih banyak yang salah-salah disetiap gerakan sedangkan teman aku yang berbeda tim sudah selesai tag video, jadi saat itu temen aku nungguin aku sampe malam, sedangkan orang tuanya sudah menelpon berkali-kali untuk menyuruh dia cepat pulang.

Saat itu, temen aku langsung nangis bukan karena takut dimarahi orang tuanya tapi merasa bersalah karena aku juga harus ikut pulang sama dia karna 1 sepeda motor sedangkan beberapa video masih belum sempurna. Aku juga sedih saat itu karna merasa bersalah intinya serba salah deh jadinya. Akhirnya tag video sekali lagi terus aku langsung cepet-cepet pulang sama temen aku. Karna temen aku dimarahin orang tuanyan jadi dia disuruh keluar dari MB.

Setelah menang juara 2 kami masih harus melawan beberapa Negara jadi harus tag video lagi yang kedua, tag video ini tentu berbeda tempat yaitu di Kalimantan tengah, pasar panas saat pengambilan video cuaca kurang mendukung jadi kami terpaksa menggunakan lapangan yang sedikit basah. Tag video yang kedua ini kami tidak juara tapi kami dapat banyak pelajaran.

Setelah ikut lomba tim kami disuruh untuk tampil di SMKN 1 Tanjung sekaligus peyerahan mendali, jujur tampil disemea adalah tampil yang paling bikin panas dingin karena pertama kali dilihat oleh banyak orang.

Setelah tampil penyerahan sertifikat oleh ibu Lis, terus langsung berangkat ke kantor bupati bersama ibu Lis untuk foto bareng dengan Bapak Anang. Jujur pertama kalinya melihat bapak bupati langsung. Setelah itu kami diteraktir makan sama ibu Lis di wong solo pas banget waktu itu belum makan dari pagi.

Note : drumband & marshingband berbeda ya.

Friday, February 4, 2022

Cimol dan Cimoy


 
Meong. Namaku Cimol kucing kesayangan Kakak Wanah yang katanya ada bau-baunya. Aku lahir dari rahimnya Si Kecil dengan ciri badan agak gempal tapi disukai Kakak Tia juga.
Aku suka tidur di atas bantal kemudian deketin Kakak Wanah, dia juga seneng dideketin aku walau pujiannya Omol agak bau katanya. Disamping bantal ada kardus isi air mineral, aku coba tidur disitu, ternyata nyaman banget.
Hmm, suatu hari aku penasaran dengan lem plester di bawah tipi, lalu aku coba masuk, kirain dalam kayak sumur ternyata enggak, akhirnya aku diliput di Instagram Kakak Emel. kadang Kakak Emel juga suka motoin aku diam-diam terus dikirim ke temannya. Huhuhu.
Aku punya masalah besar meong, ternyata aku juga punya kutu, terus Kakak Tia suka nyarikan kutu yang hinggap di badanku, tapi aku gak mau, geli tau, eww!
Selain itu, aku juga suka digendong kayak Abang Muza. Tapi aku gak suka, rasanya gak enak hihi. Tapi aku suka niruin Abang Muza melongok  di jendela.
Kakak Wanah juga ngajarin aku beol di toilet pasir, jadi kalau kebelet aku lari deh terbirit-birit ala kesetanan.
Buat memacu adrenalin, aku kadang belajar manjat tiang, gulungan karpet. Tapi aku masih takut ditaruh di atas pondasi rumah baru, Om Bidin suka banget naruh aku dan Cimoy disitu. Aku masih takut buat turun meloncat ke bawah. Aku kalah sama Cimoy huhu. Alhasil, aku dibantu  Kakak Wanah turun.
Oh iya, kalau bosen tidur di kardus atau bantal, aku juga suka tidur di sofa hijau teras rumah. 
*Ternyata itulah hari terakhir Cimol. Bersamaan datangnya Cimot di pagi buta yang mukanya agak mirip. Malam harinya Cimol senang sekali bermain di jalan hingga ditabrak orang.
Meong, aku Cimoy. Adiknya Kakak Cimol. Aku kucing yang jarang tersorot kamera karena waktu lahir mataku berkarak, huhu. Tapi setelah bersih, Om Bidin memuji aku, katanya lebih bungas (baca: aura ganteng/cantiknya terlihat). Aku juga sama dengan Kakak Cimol udah pinter beol sendiri. Kami sering berantem biar nanti sama-sama kuat. Tapi setelah Kakak Cimol gak ada. Mama (Si Kecil) jarang di rumah. Akhirnya aku jarang minum ASI, males makan, hingga penyakitan. Aku gak kuat lagi guys! Itu foto aku bareng Kakak Cimol.
*Sebulan kemudian, Cimoy mati karena gak sanggup menahan sakitnya.



Wednesday, January 5, 2022

liburan akhir tahun

Wah, ini blog pertama aku di tahun 2022, sayangnya setelah beberapa hari baru bisa post. 
Jadi, tepat hari Jumat tgl 31 Desember. Aku, Tya, Emel dan Mama mengunjungi adik nenek paling bungsu di provinsi sebelah. Ini perjalanan terjauh kami selama menggunakan sepeda motor dengan jarak sekitar 120an KM gitulah.

Nah, saat tiba di perbatasan kalsel-kaltim. Kami istirahat sebentar buat melepas penat terutama di bokong, hehe. Sejak di jalan aku pen banget minum minuman soda. Akhirnya tercapai lah keinginanku. Mama memilih es degan dan Tya minum air kelapa murni. Di area ini cukup ramai, karena memang dijadikan rest area. Tapi sinyalnya gak ada sama sekali, huhu.

Kami melanjutkan perjalanan dengan kecepatan lebih lambat dari sebelumnya. Mencari pasar Muara Komam, Tya dua kali bertanya sama orang-orang yang kami temui, mama jadi sebal.
 
Tibalah kami di Muara Komam, jalanan lebih luas dengan lampu ditengahnya tapi situasi nya lengang, ada juga Polsek. Wah, disini sudah ditemukan tanda-tanda kehidupan sinyal terutama internet. Kami menunggu nenek di pasar dan akhirnya meluncur ke rumahnya. Eh, tiba disana Tya lupa bawa bolu matcha buatan dia malam tadi.

Sore hari, rasanya belum afdol kalau tidak berjalan-jalan untuk mengamati dunia sekitar. Jadi, setelah asar tanpa kegiatan mandi-mandian karena merasa sudah cantik, aku dan kedua adikku naik motor, jalan-jalan menyusuri kota kecil ini.

Di sisi kiri, ada sungai yang sama pada umumnya dan sisi kanan ada gunung-gunung tinggi yang diperkirakan sekitar ratusan meter. Kami berjumpa objek wisata gua, tapi gak berani naik karena ada penunggunya. Yaitu kawanan monyet yang kelaparan. Next, kami lanjut. Melihat gunung yang terdiri dari batu dan terletak di belakang rumah warga. Sempat kepikiran sih, takut longsor.  Sebelah sungai, tepatnya di seberang sana juga gunung, kami melihat ada tambang disana dan kami temui jembatan layang, yang rata2 di bawahnya mobil-mobil truk pengangkut batu bara, walaupun gak ada satupun mobil yang lewat dibawah itu hehe.
Nah, tujuan Tya dan Emel itu sebenarnya mau ke Batu Kajang yang katanya lebih ramai dari Muara Komam. Saat aku upload gambar gerbang perbatasan di story WhatsApp, temanku yang tinggal di wilayah Kaltim merespon. Salahsatu diantaranya ada yang di Batu Kajang.

Merasa kejauhan kami putar balik, dan membeli dua kebab pedas dan satu burger. Karena ada orang yang bersantai di halaman MTs yang begitu indah, dihiasi kolam hias. Kami memilih makan disitu daripada di bawa pulang tapi gak bawakan mama dan nenek?

Tiba di rumah, pintunya dikunci. Mama dan nenek rupanya jalan-jalan juga. Sampai azan Maghrib berkumandang belum datang juga. Hedeh.

Singkat cerita, malam harinya setelah isya pesan WhatsApp ku dibalas Tiara. Dia teman kampusku yang tinggal disini. Tanpa ba-bi-bu, aku dan dia nekat keluar rumah menyambut moment tahun baru. Tapi gak sampai jam 12 malam juga sih.
Aku dan Tiara cuma bersantai sambil bercerita di cafe yang sederhana. Cuma memesan segelas jus naga dan alpukat.
Tya dan Emel juga menyusul.

Esoknya, aku, Mama, Tya dan Emel jalan-jalan lagi ke arah Batu Kajang. Lagi-lagi kami gak sanggup. Katanya cuma 15 menit kesana ternyata omong kosong. Apa karena mereka kalau jalan-jalan di daerah gunung-gunung kek gini kecepatannya sama orang balapan?
Kami yang ingin ke bukit Teletubbies juga gak kesampaian, cuma sampai akarnya.
Sebelum pulang ke habitat asal, kami mampir lagi ke gua. Kali ini kami semua mampu melewati tangga yang curam hingga ke pucuknya. Merdeka!
 
Gua ini sebenarnya bau sih, makanya gak minat banget masuk ke dalam.

Oke, sebelum berakhir kami pulang, dan selamat sampai ke perbatasan. Kalo ini kami tidak singgah lagi. Tapi Tya mengajak kami ke air terjun Lano. Aku dan Emel antusias ingin berjalan menuju air terjun dengan jarak tempuh 600 meter. Mama dan Tya memilih nyerah di 100 meter karena takut dengan rintangan berikutnya dan Tya sudah pernah kesini beberapa tahun lalu. Tya menyerahkan sandalnya, sebelumnya aku nyeker karena gak kebagian saat di persewaan sandal jepit.
Aku dan Emel berjuang lagi melewati berbagai rintangan, menyebrang aliran air. Dan tiba di 500 meter. Aku dan Emel mengakhiri segalanya karena ingin menghemat waktu pulang. Disini hanya bertemu, anak air terjun yang tingginya gak seberapa.
Maaf, karena masa depanku masih suram seperti gambar ini. Jadi bagi aku, terlalu mahal untuk memposting foto yang lebih jernih. Sekian.

Monday, November 15, 2021

Traveling ke Wisata Batu Timbul di Jaro

UKM Century, organisasi kampus yang sudah aku ikuti selama dua tahun mengadakan kunjungan ke Wisata batu timbul di Jaro. Niat kami bukan untuk liburan, itu hanya selingan. Kami sebenarnya ada kegiatan untuk pemberdayaan masyarakat di desa Nalui, Jaro. Misi kami mengajarkan pengolahan kemiri menjadi nilai tambah lantaran kemiri merupakan salah satu SDA terbesar disini. Kami membuat cake labu kemiri dan sus kemiri menjadi produk unggulan mereka.

Kami berangkat pada hari Sabtu tanggal 13 November 2021. Aku memilih hari Minggu, karena aku ada acara tasmiyah sepupuku di Amuntai. Jadi aku memilih untuk tidak menginap. Aku berangkat pukul setengah tujuh pagi, bersama teman-teman baruku, mereka bukan anak Century, tetapi komunitas relawan kampus. Sebab yang melakukan ekspedisi kali ini terdiri 4 UKM yaitu Century, Mapala, Korma, dan Pramuka.

Entah apa yang mereka lakukan pada hari Sabtu. Aku telah tiba sekitar pukul 9. Aku melihat suasana wisata. Jika saat itu aku pernah kesini pada tahun 2019 dengan jalan akses tanah dan belum diolah masyarakatnya menjadi wisata. Kali ini aku takjub, mereka membuat tempat ini menjadi menarik. 

Sungai yang dulu jernih, mungkin sekarang agak keruh. Tetapi masih dangkal. Sekarang meja dan bangku di taruh di tepi sungai sebagai tempat duduk pengunjung yang dibawahnya dialiri air yang membasahi kaki mereka. Disini terdapat warung-warung yang bisa dijadikan penunda lapar para pengunjung. Aku dan Mita memilih menyeduh mie instan dan ditambah beberapa pentol agar kenyang. Kami menyantap sambil melihat aliran sungai yang mengalir dan mobil jet yang adu nyali sambil mandi. Beberapa anak kecil ada yang membuat istana pasir meskipun terlihat seperti batu nisan.

Setelah itu aku dan Mita ke sungai, merendam kaki. Karena lupa membawa sandal, aku melepas sepatu dan kaos kaki. Rasanya segar sekali di kakiku. Kemudian sahabat akrab di kelasku si Milka datang, kebetulan ia penduduk asli disini. Aku diajak dia berfoto, katanya buat kenangan. Biarlah Milka yang jadi fotograferku hari ini. Lalu kami membeli secangkir Dum tea rasa taro dan greentea, serta membelikan Nugi varian rasa coklat.

Kami memandangi ibu-ibu karang taruna demo masak cake labu kemiri yang dipandu Kak Febri. Aku dan Milka hanya duduk memperhatikan sembari menyeruput minuman kami. Tim kreator juga menyiapkan gawai untuk merekam tutorial memasaknya. Kemudian waktu Zuhur menyapa, aku meminta izin untuk salat. Bukannya di musala terdekat, aku memilih ibadah di rumah Milka karena ingin mengetahui lokasi rumahnya biar tahu sekaligus mengenali seluk beluk desa Nalui.

Setelah salat, kami kembali lagi. Milka akhirnya meninggalkanku, dan kini giliran anak-anak Century yang demo masak cake labu kemiri dan rencananya akan dijual disini. Dalam proses pembuatan kami hanya lihai dalam menimbang bahan, saat memixer, Kak Febri lah yang turun tangan. Saat memanggang bagian atas ada yang gosong, hasilnya punya kami agak bantat. Tak sesuai dengan ekspektasi, Kak Febri menyuruh kami untuk batal menjual.

Hari semakin sore, berharap ingin pulang pukul 17.00. Tetapi, perutku agak lapar dan gak enak kalau pulang duluan. Saat meminta izin, Bang Ipang menyuruh kami bantu beberes. Jangan pulang duluan. Akhirnya, dengan perut keroncongan, aku bantu beres-beres sedikit sembari makan ditemani lauk nuget yang kami masak bersamaan dengan cake tadi dan potongan mangga yang mencuci mulut setelah makan. Tak apa lauknya tak komplit dan jauh dari kata bergizi, yang penting perutku terisi.

Hingga alunan suara mengaji dari surau terdengar, kami tak kunjung pulang. Sempat mengatur karung-karung berisi jagung yang akan kami bawa nanti, sempat foto bersama dulu.

Kami pun pulang dengan suara azan Maghrib terdengar dimana-mana, aku risau hendak ibadah dimana, setibanya di tengah perjalanan, daerah Muara Uya, aku dan Mita singgah di masjid. Sementara itu, teman-teman lain yang masih tertinggal melewati persinggahan kami ketika aku wudu. Aku tak peduli, gak papa ketinggalan rombongan, yang penting aku gak ninggalkan Tuhanku. Usai salat, langit mengguyur hujan, aku dan Mita bersegera memakai jas hujan masing-masing. Giliran Mita yang membonceng ku.

Jalanan tampak gelap, Mita membawa kendaraan dengan santai. Aku tak berharap cepat sampai, yang penting selamat. Akhirnya kamu bertemu rombongan, aku senang sekali. Tiba di tugu obor aku mengucapkan puji syukur sebanyak-banyaknya kepada Tuhan. Kami sampai di markas untuk menaruh setengah karung jagung lalu mengantar Mita ke kosnya, dan aku pun pulang ke rumahku.

Tuesday, October 26, 2021

Duta Baca

26 Oktober 2021
Aku iseng-iseng ikut lomba duta baca Tabalong (Kabupaten di daerahku). Niatnya sih, pen jadi idola gitu, hehe. Aku mengikuti serangkaian lombanya, diawali dengan meminjam buku Radikus makankakus karya Raditya Dika. Tetapi, aku merasa kurang cocok, akhirnya aku ke perpustakaan lagi untuk minjam buku Rentang Kisah karya Gita Savitri Devi. Bagiku, ini ceritanya inspiratif. 
Setelah itu meresensinya dengan menulis di kertas folio. Aku mengumpulnya dan memotocopy agar mudah menghafal. Aku hafalin terus sampai seminggu, bahkan saat  bantu mamaku menyadap karet, kusempat - sempatin buat ngapalin biar lancar jaya. 
Hari H, yaitu presentasi resensi. Aku berusaha bangun lebih pagi dan datang sebelum jam yang ditentukan dimulai. Dari rumah, aku agak gugup. Berulang kali aku membaca shalawat dan alam nasyrah biar tenang, itu pesan mba Nana. 
Satu jam kami menunggu juri datang. Acara dimulai, peserta pertama tampil, sedangkan yang lain menunggu diluar aula. Aku mendapatkan teman-teman yang positif vibes selama menunggu giliran, seperti pelajar dari Aliyah, perempuan dari mahasiswa perwakilan dari STIT SMN, Kaka tingkat dari kampusku, aku gak nyangka perwakilan dari kampus kami ada dua orang. Ka Bahrul yang satu kampus dengan kakak perempuan itu mondar mandir menemui aku, kami berbincang gak jelas. Kayaknya dia emang suka temenan sama aku, hahaha.
Cukup lama menunggu, sampai azan zuhur nomorku belum terpanggil, padahal no 02. Karena sistem arisan jadi gak urut. Kami diberi snack kotakan dan sekotak nasi. Setelah yang disebut bukan nomorku, aku memilih sholat dulu. Kemudian, namaku belum juga disebut, aku memilih untuk makan siang. Walaupun tak senikmat lesehan.
Sempat bercanda-canda dengan adik-adik Aliyah, akhirnya nomor 02 dipanggil. Ketika tampil, dadaku bergetar tak keruan. Awalnya ingin menjelaskan "Rentang Kisah adalah..." Menjadi "Gita Savitri Devi adalah...."
Astaghfirullah. Terbaalik!!!
Semakin lama berbicara gugupku berkurang. Aku PD menjawab pertanyaan dari juri. Tetapi ketika ditanya, Unsur- unsur Resensi. Ya Allah, aku gak mempelajari itu sama sekali. Jangankan unsur-unsurnya, mencari pengertian resensi aja pas nunggu giliran.
Aduh, aku yakin gak bakalan menang, ternyata kalau niatnya gak baik. Hasil akhirnya emang kurang ajar.
Peserta lomba memasuki aula, saatnya pengumuman. Juara harapan 2, Kaka tingkatku yang meraihnya. Wah, gak nyangka. Padahal dia kurang ngerti sama isi novelnya mungkin public speaking nya bagus, dan cukup PD. Aku bangga sama anak-anak Aliyah, dua diantaranya dapat harapan 1 dan juara 3.  Padahal aku sempat mengira sekolah unggulan dengan rok kotak-kotak itu yang akan juara diantara mereka dengan jumlah pasukan 6 orang (terbanyak). Sudah mewanti-wanti mereka bakalan menang begitupun SMA lain. Ka Bahrul jadi peringkat 2. Yang pertama kakak perempuan itu. Gak nyangka banget. Awalnya aku dengan PD bilang, "padahal kalau peserta lainnya di dalam (menyaksikan presentasi) gak ngaruh," ucapku. "Ngaruh sih, tambah gugup" katanya. Tak disangka-sangka, dia menjadi DUTA BACA TABALONG tahun ini. Kupeluk dia seolah-olah sok akrab. Hahaha, ternyata aku sehumble itu.
Akhir cerita, aku ikut berfoto dengan Kating dan adik-adik Aliyah, biar kesannya jadi memorable. (Sorry, gak ada berfoto sama rangking 1 dan 2. Posisi diujung sebelah kanan.)

Tentang Nenek

  Yeay, akhirnya pengen nulis lagi setelah sekian lama vakum. Jadi, kali ini aku mau bercerita tentang nenekku. Buat dijadikan pelajaran dan...