Saturday, April 16, 2022

Emelda Agustina X TBS 1

Emel 


Cerita ku…

Hai aku Emelda Agustina, Banyak banget pengalaman yang sudah aku lewati di umur 14 tahun ini salah satunya adalah mengikuti kegiatan drumband/marshingband. Dari sejak kelas 6 sd aku sudah ikut drumband, karena lulus SD jadi aku berhenti mengikuti drumband. Masuklah aku ke smp 6 Tanjung didesa aku sendiri sampai kelas 3 smp aku ditawarkan oleh pelatih drumband ku untuk masuk marshingband tetapi tempat latihannya lumayan jauh yaitu di smp 1 Tanjung jadi latihannya seperti gabung dengan mereka karena saat itu kita ingin tampil parade di taman tanjung. Setelah tampil di taman tanjung kami juga ada tampil disalah satu tempat pernikahan teman pelatih kami di pangkalan.

Setelah beberapa kali tampil akhirnya tempat latihan mashingband berganti di Expo, saat itu latihannya tidak lagi bergabung dengan smp 1 Tanjung tetapi bergabung dengan sekolah SMKN 1Tanjung yang kelas 10 dan 11 nya, waktu itu hanya aku dan 1 orang teman aku yang SMP.

Hampir setengah jam dari rumah aku dan teman saya ke Expo tempat latihan sebenernya takut banget kalo di jalan ada terjadi apa-apa dengan kami dan pulangnya juga sore banget sampe rumah sudah hampir malam belum lagi orang tua teman saya yang selalu marah-marah dengannya dan akhirnya teman saya memutuskan untuk berhenti ikut marshingband.

Saat itu Alhamdulillah orang tua aku masih memaklumi tapi karena  saat itu masih smp dan aku juga masih belum berani naik sepeda motor sendirian sampai sejauh itu jadi aku juga ikut berheti mengikuti marshingband.

Masuk SMKN 1 Tanjung tahun 2021 saat itu masih dalam keadaan pandemi, entah beberapa bulan belajar daring setelah itu belajar tatap muka, waktu itu pengen banget ikut ekskul tari atau dance tapi ternyata waktu itu exskulnya lagi kada aktif, jadi bingung deh mau ikut ekskul apa, waktu itu aku chat teman yang pernah ikut marshingband ternyata dia juga bingung, karena besic kami berdua marshingband dari smp yaudah deh jadi kami berdua ikut marshingband lagi.

Tempat latihan nya masih sama yaitu di Expo, setelah beberapa minggu latihan ternyata kata Abang pelatih kami, kita akan mengikuti Event ASIAN Music Game, Seneng banget rasanya akhirnya bisa ikut lomba karna ikut lomba latihannya pun jadi setiap hari, karna temen aku ga dibolehin latihan setiap hari dan pulang hampir mau malam terus jadi dia keluar dari Marsgungband. Sempat mikir gimana aku berangkan dari kambitin ke Expo sendirian, Ternyata ada salah satu temenku lagi dari kambitin yang mau ikut Marshingband, seneng banget akhirnya ga jadi berangkat sendiri latihan.

Saat itu Alhamdulillah Tim CG atau pemain yang megang bendera Menang juara 2 tingkat Nasional tentu tidak mudah. tag video pertama di Aula SMKN 1 Tanjung saat itu pengambilan video bergantian dengan tim yang lain.Butuh waktu berjam-jam untuk mencari video terbaik dari jam 5 sore sampai jam 9 malam. Beberapa video sudah ada, di video terakhir masih belum sempurna masih banyak yang salah-salah disetiap gerakan sedangkan teman aku yang berbeda tim sudah selesai tag video, jadi saat itu temen aku nungguin aku sampe malam, sedangkan orang tuanya sudah menelpon berkali-kali untuk menyuruh dia cepat pulang.

Saat itu, temen aku langsung nangis bukan karena takut dimarahi orang tuanya tapi merasa bersalah karena aku juga harus ikut pulang sama dia karna 1 sepeda motor sedangkan beberapa video masih belum sempurna. Aku juga sedih saat itu karna merasa bersalah intinya serba salah deh jadinya. Akhirnya tag video sekali lagi terus aku langsung cepet-cepet pulang sama temen aku. Karna temen aku dimarahin orang tuanyan jadi dia disuruh keluar dari MB.

Setelah menang juara 2 kami masih harus melawan beberapa Negara jadi harus tag video lagi yang kedua, tag video ini tentu berbeda tempat yaitu di Kalimantan tengah, pasar panas saat pengambilan video cuaca kurang mendukung jadi kami terpaksa menggunakan lapangan yang sedikit basah. Tag video yang kedua ini kami tidak juara tapi kami dapat banyak pelajaran.

Setelah ikut lomba tim kami disuruh untuk tampil di SMKN 1 Tanjung sekaligus peyerahan mendali, jujur tampil disemea adalah tampil yang paling bikin panas dingin karena pertama kali dilihat oleh banyak orang.

Setelah tampil penyerahan sertifikat oleh ibu Lis, terus langsung berangkat ke kantor bupati bersama ibu Lis untuk foto bareng dengan Bapak Anang. Jujur pertama kalinya melihat bapak bupati langsung. Setelah itu kami diteraktir makan sama ibu Lis di wong solo pas banget waktu itu belum makan dari pagi.

Note : drumband & marshingband berbeda ya.

Friday, February 4, 2022

Cimol dan Cimoy


 
Meong. Namaku Cimol kucing kesayangan Kakak Wanah yang katanya ada bau-baunya. Aku lahir dari rahimnya Si Kecil dengan ciri badan agak gempal tapi disukai Kakak Tia juga.
Aku suka tidur di atas bantal kemudian deketin Kakak Wanah, dia juga seneng dideketin aku walau pujiannya Omol agak bau katanya. Disamping bantal ada kardus isi air mineral, aku coba tidur disitu, ternyata nyaman banget.
Hmm, suatu hari aku penasaran dengan lem plester di bawah tipi, lalu aku coba masuk, kirain dalam kayak sumur ternyata enggak, akhirnya aku diliput di Instagram Kakak Emel. kadang Kakak Emel juga suka motoin aku diam-diam terus dikirim ke temannya. Huhuhu.
Aku punya masalah besar meong, ternyata aku juga punya kutu, terus Kakak Tia suka nyarikan kutu yang hinggap di badanku, tapi aku gak mau, geli tau, eww!
Selain itu, aku juga suka digendong kayak Abang Muza. Tapi aku gak suka, rasanya gak enak hihi. Tapi aku suka niruin Abang Muza melongok  di jendela.
Kakak Wanah juga ngajarin aku beol di toilet pasir, jadi kalau kebelet aku lari deh terbirit-birit ala kesetanan.
Buat memacu adrenalin, aku kadang belajar manjat tiang, gulungan karpet. Tapi aku masih takut ditaruh di atas pondasi rumah baru, Om Bidin suka banget naruh aku dan Cimoy disitu. Aku masih takut buat turun meloncat ke bawah. Aku kalah sama Cimoy huhu. Alhasil, aku dibantu  Kakak Wanah turun.
Oh iya, kalau bosen tidur di kardus atau bantal, aku juga suka tidur di sofa hijau teras rumah. 
*Ternyata itulah hari terakhir Cimol. Bersamaan datangnya Cimot di pagi buta yang mukanya agak mirip. Malam harinya Cimol senang sekali bermain di jalan hingga ditabrak orang.
Meong, aku Cimoy. Adiknya Kakak Cimol. Aku kucing yang jarang tersorot kamera karena waktu lahir mataku berkarak, huhu. Tapi setelah bersih, Om Bidin memuji aku, katanya lebih bungas (baca: aura ganteng/cantiknya terlihat). Aku juga sama dengan Kakak Cimol udah pinter beol sendiri. Kami sering berantem biar nanti sama-sama kuat. Tapi setelah Kakak Cimol gak ada. Mama (Si Kecil) jarang di rumah. Akhirnya aku jarang minum ASI, males makan, hingga penyakitan. Aku gak kuat lagi guys! Itu foto aku bareng Kakak Cimol.
*Sebulan kemudian, Cimoy mati karena gak sanggup menahan sakitnya.



Wednesday, January 5, 2022

liburan akhir tahun

Wah, ini blog pertama aku di tahun 2022, sayangnya setelah beberapa hari baru bisa post. 
Jadi, tepat hari Jumat tgl 31 Desember. Aku, Tya, Emel dan Mama mengunjungi adik nenek paling bungsu di provinsi sebelah. Ini perjalanan terjauh kami selama menggunakan sepeda motor dengan jarak sekitar 120an KM gitulah.

Nah, saat tiba di perbatasan kalsel-kaltim. Kami istirahat sebentar buat melepas penat terutama di bokong, hehe. Sejak di jalan aku pen banget minum minuman soda. Akhirnya tercapai lah keinginanku. Mama memilih es degan dan Tya minum air kelapa murni. Di area ini cukup ramai, karena memang dijadikan rest area. Tapi sinyalnya gak ada sama sekali, huhu.

Kami melanjutkan perjalanan dengan kecepatan lebih lambat dari sebelumnya. Mencari pasar Muara Komam, Tya dua kali bertanya sama orang-orang yang kami temui, mama jadi sebal.
 
Tibalah kami di Muara Komam, jalanan lebih luas dengan lampu ditengahnya tapi situasi nya lengang, ada juga Polsek. Wah, disini sudah ditemukan tanda-tanda kehidupan sinyal terutama internet. Kami menunggu nenek di pasar dan akhirnya meluncur ke rumahnya. Eh, tiba disana Tya lupa bawa bolu matcha buatan dia malam tadi.

Sore hari, rasanya belum afdol kalau tidak berjalan-jalan untuk mengamati dunia sekitar. Jadi, setelah asar tanpa kegiatan mandi-mandian karena merasa sudah cantik, aku dan kedua adikku naik motor, jalan-jalan menyusuri kota kecil ini.

Di sisi kiri, ada sungai yang sama pada umumnya dan sisi kanan ada gunung-gunung tinggi yang diperkirakan sekitar ratusan meter. Kami berjumpa objek wisata gua, tapi gak berani naik karena ada penunggunya. Yaitu kawanan monyet yang kelaparan. Next, kami lanjut. Melihat gunung yang terdiri dari batu dan terletak di belakang rumah warga. Sempat kepikiran sih, takut longsor.  Sebelah sungai, tepatnya di seberang sana juga gunung, kami melihat ada tambang disana dan kami temui jembatan layang, yang rata2 di bawahnya mobil-mobil truk pengangkut batu bara, walaupun gak ada satupun mobil yang lewat dibawah itu hehe.
Nah, tujuan Tya dan Emel itu sebenarnya mau ke Batu Kajang yang katanya lebih ramai dari Muara Komam. Saat aku upload gambar gerbang perbatasan di story WhatsApp, temanku yang tinggal di wilayah Kaltim merespon. Salahsatu diantaranya ada yang di Batu Kajang.

Merasa kejauhan kami putar balik, dan membeli dua kebab pedas dan satu burger. Karena ada orang yang bersantai di halaman MTs yang begitu indah, dihiasi kolam hias. Kami memilih makan disitu daripada di bawa pulang tapi gak bawakan mama dan nenek?

Tiba di rumah, pintunya dikunci. Mama dan nenek rupanya jalan-jalan juga. Sampai azan Maghrib berkumandang belum datang juga. Hedeh.

Singkat cerita, malam harinya setelah isya pesan WhatsApp ku dibalas Tiara. Dia teman kampusku yang tinggal disini. Tanpa ba-bi-bu, aku dan dia nekat keluar rumah menyambut moment tahun baru. Tapi gak sampai jam 12 malam juga sih.
Aku dan Tiara cuma bersantai sambil bercerita di cafe yang sederhana. Cuma memesan segelas jus naga dan alpukat.
Tya dan Emel juga menyusul.

Esoknya, aku, Mama, Tya dan Emel jalan-jalan lagi ke arah Batu Kajang. Lagi-lagi kami gak sanggup. Katanya cuma 15 menit kesana ternyata omong kosong. Apa karena mereka kalau jalan-jalan di daerah gunung-gunung kek gini kecepatannya sama orang balapan?
Kami yang ingin ke bukit Teletubbies juga gak kesampaian, cuma sampai akarnya.
Sebelum pulang ke habitat asal, kami mampir lagi ke gua. Kali ini kami semua mampu melewati tangga yang curam hingga ke pucuknya. Merdeka!
 
Gua ini sebenarnya bau sih, makanya gak minat banget masuk ke dalam.

Oke, sebelum berakhir kami pulang, dan selamat sampai ke perbatasan. Kalo ini kami tidak singgah lagi. Tapi Tya mengajak kami ke air terjun Lano. Aku dan Emel antusias ingin berjalan menuju air terjun dengan jarak tempuh 600 meter. Mama dan Tya memilih nyerah di 100 meter karena takut dengan rintangan berikutnya dan Tya sudah pernah kesini beberapa tahun lalu. Tya menyerahkan sandalnya, sebelumnya aku nyeker karena gak kebagian saat di persewaan sandal jepit.
Aku dan Emel berjuang lagi melewati berbagai rintangan, menyebrang aliran air. Dan tiba di 500 meter. Aku dan Emel mengakhiri segalanya karena ingin menghemat waktu pulang. Disini hanya bertemu, anak air terjun yang tingginya gak seberapa.
Maaf, karena masa depanku masih suram seperti gambar ini. Jadi bagi aku, terlalu mahal untuk memposting foto yang lebih jernih. Sekian.

Monday, November 15, 2021

Traveling ke Wisata Batu Timbul di Jaro

UKM Century, organisasi kampus yang sudah aku ikuti selama dua tahun mengadakan kunjungan ke Wisata batu timbul di Jaro. Niat kami bukan untuk liburan, itu hanya selingan. Kami sebenarnya ada kegiatan untuk pemberdayaan masyarakat di desa Nalui, Jaro. Misi kami mengajarkan pengolahan kemiri menjadi nilai tambah lantaran kemiri merupakan salah satu SDA terbesar disini. Kami membuat cake labu kemiri dan sus kemiri menjadi produk unggulan mereka.

Kami berangkat pada hari Sabtu tanggal 13 November 2021. Aku memilih hari Minggu, karena aku ada acara tasmiyah sepupuku di Amuntai. Jadi aku memilih untuk tidak menginap. Aku berangkat pukul setengah tujuh pagi, bersama teman-teman baruku, mereka bukan anak Century, tetapi komunitas relawan kampus. Sebab yang melakukan ekspedisi kali ini terdiri 4 UKM yaitu Century, Mapala, Korma, dan Pramuka.

Entah apa yang mereka lakukan pada hari Sabtu. Aku telah tiba sekitar pukul 9. Aku melihat suasana wisata. Jika saat itu aku pernah kesini pada tahun 2019 dengan jalan akses tanah dan belum diolah masyarakatnya menjadi wisata. Kali ini aku takjub, mereka membuat tempat ini menjadi menarik. 

Sungai yang dulu jernih, mungkin sekarang agak keruh. Tetapi masih dangkal. Sekarang meja dan bangku di taruh di tepi sungai sebagai tempat duduk pengunjung yang dibawahnya dialiri air yang membasahi kaki mereka. Disini terdapat warung-warung yang bisa dijadikan penunda lapar para pengunjung. Aku dan Mita memilih menyeduh mie instan dan ditambah beberapa pentol agar kenyang. Kami menyantap sambil melihat aliran sungai yang mengalir dan mobil jet yang adu nyali sambil mandi. Beberapa anak kecil ada yang membuat istana pasir meskipun terlihat seperti batu nisan.

Setelah itu aku dan Mita ke sungai, merendam kaki. Karena lupa membawa sandal, aku melepas sepatu dan kaos kaki. Rasanya segar sekali di kakiku. Kemudian sahabat akrab di kelasku si Milka datang, kebetulan ia penduduk asli disini. Aku diajak dia berfoto, katanya buat kenangan. Biarlah Milka yang jadi fotograferku hari ini. Lalu kami membeli secangkir Dum tea rasa taro dan greentea, serta membelikan Nugi varian rasa coklat.

Kami memandangi ibu-ibu karang taruna demo masak cake labu kemiri yang dipandu Kak Febri. Aku dan Milka hanya duduk memperhatikan sembari menyeruput minuman kami. Tim kreator juga menyiapkan gawai untuk merekam tutorial memasaknya. Kemudian waktu Zuhur menyapa, aku meminta izin untuk salat. Bukannya di musala terdekat, aku memilih ibadah di rumah Milka karena ingin mengetahui lokasi rumahnya biar tahu sekaligus mengenali seluk beluk desa Nalui.

Setelah salat, kami kembali lagi. Milka akhirnya meninggalkanku, dan kini giliran anak-anak Century yang demo masak cake labu kemiri dan rencananya akan dijual disini. Dalam proses pembuatan kami hanya lihai dalam menimbang bahan, saat memixer, Kak Febri lah yang turun tangan. Saat memanggang bagian atas ada yang gosong, hasilnya punya kami agak bantat. Tak sesuai dengan ekspektasi, Kak Febri menyuruh kami untuk batal menjual.

Hari semakin sore, berharap ingin pulang pukul 17.00. Tetapi, perutku agak lapar dan gak enak kalau pulang duluan. Saat meminta izin, Bang Ipang menyuruh kami bantu beberes. Jangan pulang duluan. Akhirnya, dengan perut keroncongan, aku bantu beres-beres sedikit sembari makan ditemani lauk nuget yang kami masak bersamaan dengan cake tadi dan potongan mangga yang mencuci mulut setelah makan. Tak apa lauknya tak komplit dan jauh dari kata bergizi, yang penting perutku terisi.

Hingga alunan suara mengaji dari surau terdengar, kami tak kunjung pulang. Sempat mengatur karung-karung berisi jagung yang akan kami bawa nanti, sempat foto bersama dulu.

Kami pun pulang dengan suara azan Maghrib terdengar dimana-mana, aku risau hendak ibadah dimana, setibanya di tengah perjalanan, daerah Muara Uya, aku dan Mita singgah di masjid. Sementara itu, teman-teman lain yang masih tertinggal melewati persinggahan kami ketika aku wudu. Aku tak peduli, gak papa ketinggalan rombongan, yang penting aku gak ninggalkan Tuhanku. Usai salat, langit mengguyur hujan, aku dan Mita bersegera memakai jas hujan masing-masing. Giliran Mita yang membonceng ku.

Jalanan tampak gelap, Mita membawa kendaraan dengan santai. Aku tak berharap cepat sampai, yang penting selamat. Akhirnya kamu bertemu rombongan, aku senang sekali. Tiba di tugu obor aku mengucapkan puji syukur sebanyak-banyaknya kepada Tuhan. Kami sampai di markas untuk menaruh setengah karung jagung lalu mengantar Mita ke kosnya, dan aku pun pulang ke rumahku.

Tuesday, October 26, 2021

Duta Baca

26 Oktober 2021
Aku iseng-iseng ikut lomba duta baca Tabalong (Kabupaten di daerahku). Niatnya sih, pen jadi idola gitu, hehe. Aku mengikuti serangkaian lombanya, diawali dengan meminjam buku Radikus makankakus karya Raditya Dika. Tetapi, aku merasa kurang cocok, akhirnya aku ke perpustakaan lagi untuk minjam buku Rentang Kisah karya Gita Savitri Devi. Bagiku, ini ceritanya inspiratif. 
Setelah itu meresensinya dengan menulis di kertas folio. Aku mengumpulnya dan memotocopy agar mudah menghafal. Aku hafalin terus sampai seminggu, bahkan saat  bantu mamaku menyadap karet, kusempat - sempatin buat ngapalin biar lancar jaya. 
Hari H, yaitu presentasi resensi. Aku berusaha bangun lebih pagi dan datang sebelum jam yang ditentukan dimulai. Dari rumah, aku agak gugup. Berulang kali aku membaca shalawat dan alam nasyrah biar tenang, itu pesan mba Nana. 
Satu jam kami menunggu juri datang. Acara dimulai, peserta pertama tampil, sedangkan yang lain menunggu diluar aula. Aku mendapatkan teman-teman yang positif vibes selama menunggu giliran, seperti pelajar dari Aliyah, perempuan dari mahasiswa perwakilan dari STIT SMN, Kaka tingkat dari kampusku, aku gak nyangka perwakilan dari kampus kami ada dua orang. Ka Bahrul yang satu kampus dengan kakak perempuan itu mondar mandir menemui aku, kami berbincang gak jelas. Kayaknya dia emang suka temenan sama aku, hahaha.
Cukup lama menunggu, sampai azan zuhur nomorku belum terpanggil, padahal no 02. Karena sistem arisan jadi gak urut. Kami diberi snack kotakan dan sekotak nasi. Setelah yang disebut bukan nomorku, aku memilih sholat dulu. Kemudian, namaku belum juga disebut, aku memilih untuk makan siang. Walaupun tak senikmat lesehan.
Sempat bercanda-canda dengan adik-adik Aliyah, akhirnya nomor 02 dipanggil. Ketika tampil, dadaku bergetar tak keruan. Awalnya ingin menjelaskan "Rentang Kisah adalah..." Menjadi "Gita Savitri Devi adalah...."
Astaghfirullah. Terbaalik!!!
Semakin lama berbicara gugupku berkurang. Aku PD menjawab pertanyaan dari juri. Tetapi ketika ditanya, Unsur- unsur Resensi. Ya Allah, aku gak mempelajari itu sama sekali. Jangankan unsur-unsurnya, mencari pengertian resensi aja pas nunggu giliran.
Aduh, aku yakin gak bakalan menang, ternyata kalau niatnya gak baik. Hasil akhirnya emang kurang ajar.
Peserta lomba memasuki aula, saatnya pengumuman. Juara harapan 2, Kaka tingkatku yang meraihnya. Wah, gak nyangka. Padahal dia kurang ngerti sama isi novelnya mungkin public speaking nya bagus, dan cukup PD. Aku bangga sama anak-anak Aliyah, dua diantaranya dapat harapan 1 dan juara 3.  Padahal aku sempat mengira sekolah unggulan dengan rok kotak-kotak itu yang akan juara diantara mereka dengan jumlah pasukan 6 orang (terbanyak). Sudah mewanti-wanti mereka bakalan menang begitupun SMA lain. Ka Bahrul jadi peringkat 2. Yang pertama kakak perempuan itu. Gak nyangka banget. Awalnya aku dengan PD bilang, "padahal kalau peserta lainnya di dalam (menyaksikan presentasi) gak ngaruh," ucapku. "Ngaruh sih, tambah gugup" katanya. Tak disangka-sangka, dia menjadi DUTA BACA TABALONG tahun ini. Kupeluk dia seolah-olah sok akrab. Hahaha, ternyata aku sehumble itu.
Akhir cerita, aku ikut berfoto dengan Kating dan adik-adik Aliyah, biar kesannya jadi memorable. (Sorry, gak ada berfoto sama rangking 1 dan 2. Posisi diujung sebelah kanan.)

Sunday, February 21, 2021

kegiatanku di Bincang Literasi


Alhamdulillah, hari ini kami, Komunitas Menulis Al-Qolam mengadakan bincang literasi ketiga. Temanya "Penulisan Syair Banjar". Dihadiri pemateri yang sudah mahir dalam sastra maupun non sastra.

Thursday, March 19, 2020

Kuliah sambil Bisnis, Ini Ceritaku


Kuliah sambil bisnis, Ini Ceritaku

Sebagian mahasiswa pasti memiliki keinginan untuk mencari uang, guna untuk meringankan beban orang tuanya. Apalagi kebutuhan mahasiswa yang begitu banyak mulai dari biaya transportasi, biaya makan maupun biaya membuat tugas ditambah biaya sewa kost bagi mahasiswa yang jauh dari orang tuanya memaksa sebagian mahasiswa untuk mencari tambahan dana. Hal ini mungkin sangat dirasakan bagi mahasiswa yang terlahir dari keluarga yang kurang mampu.
Oke, kali ini saya akan menceritakan tentang perjalanan bisnis dimana saya mencoba mencari penghasilan tambahan meskipun saya sudah bekerja di usaha rumahan kue dengan mengikuti kuliah program non-reguler atau yang biasa disebut kelas karyawan.

Mungkin Anda berpikir sebagai mahasiswa non reguler telah memiliki uang sendiri bahkan tak perlu lagi mencari tambahan finansial. Heeitss tunggu dulu... siapa bilang begitu? punya uang sendiri sih, yes. tapi permasalahan di otak saya adalah bagaimana saya mampu mengembangkan jiwa berwirausaha agar kelak bisa menciptakan lapangan kerja. Hiiyaaa. Kebetulan, saya mengambil jurusan Administrasi Bisnis karena keinginan untuk menjadi pengusaha.
Awalnya, saya mengikuti kegiatan UKM di kampus yaitu Center Of Entrrpreneurship for Youth. Disitu saya  menemukan teman-teman baru maupun terjun ke lapangan langsung untuk praktik dagang.  Dalam melakukan bisnis atau berdagang ada beberapa hal yang perlu kami perhatikan, yaitu pemilihan produk yang tepat sehingga menarik minat masyarakat. Pertama-tama, kami berdiskusi produk apa yang ingin kami jual. kami pun memilih banana nugget. Kedua, masalah tempat, harus strategis. ketua umum mengarahkan untuk berjualan ke pendopo. Ketiga, modal. Dikasih 200 ribu oleh bendahara UKM.

Hari yang ditunggu telah tiba, tepat pada hari minggu libur kerja dan kuliah, saya dan teman-teman menyiapkan alat-alat operasional seperti meja, wajan, kompor dll.  Serta membawa bahan- bahan seperti gula, tepung, pisang dll. Kegiatan berjalan lancar, dan aku paling sibuk menangani semuanya apalagi ada seseorang yang langsung memesan 100 porsi. Saya kesana kemari mencari pisang yang kehabisan. Lebih sedihnya lagi, pisang harganya mahal. Akhirnya team kami lumpuh, mengalami kerugian yang hakiki. Dibanding team yang lain mereka masih mendapatkan untung.
kegiatan selanjutnya, kami mengganti produk berupa minuman, namanya kocktail nanas. Kali ini kami tak ingin buntung lagi. Sebelum berdagang, kami harus benar-benar teliti menghitung modal dan menentukan harga produk yang akurat serta diuji kenyamanan rasanya. Tetapi melesat lagi, kurang laku rupanya. Sebagian sisanya saya jual secara online.

Semakin lama bertahan di UKM. saya semakin sibuk bekerja dan mulai tidak aktif lagi mengikutinya. Salah satu anggota dari organisasi ini ada yang masih aktif bahkan sibuk berdagang secara online, produknya berupa pentol sadis  dan ubi coklat. Dia meminta bantuanku untuk memasarkannya secara luas dan memberi harga reseller. Jika delivery, uang ongkos kirim masuk ke my wallet. Hihii.
Saya melakukan bisnis ini sepulang kerja, terlebih dahulu  menemui owner, mengambil makanan tsb lalu mengantarnya ke customer. Pengalaman makin mewarnai kehidupan saya, mulai dari pulang kemalaman, kehujanan, orderan dicancel, dan yang lebih parahnya lagi seporsi pentol sadis terjatuh di jalan karena gak sengaja nabrak lubang. Ambyyaarrr.... rugi sih, untung ada ongkir yang menutupi. Pesanan terbanyak dan paling beruntung ketika teman-teman sekelasku banyak yang memesan, hehe....

sekian dan terima kasih yaaa

This is the best moment berdagang di Pendopo.

Tentang Nenek

  Yeay, akhirnya pengen nulis lagi setelah sekian lama vakum. Jadi, kali ini aku mau bercerita tentang nenekku. Buat dijadikan pelajaran dan...